Syukur Nikmat
Syukur adalah pantulan cahaya iman, sementara nikmat merupakan karunia dari Allah Swt. Seseorang yang bersyukur berarti mengakui bahwa seluruh karunia tersebut berasal dari-Nya. Karena itu, ketika bersyukur, manusia seharusnya menyerahkan jati diri dan seluruh fasilitas yang dimilikinya hanya kepada Allah Swt.
Allah Swt telah berjanji dalam Al-Qur’an, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).
Secara sederhana, ayat ini menggambarkan bahwa syukur mendatangkan tambahan nikmat, sedangkan kufur berujung pada azab.
Namun dalam realitas kehidupan, sering muncul pertanyaan: mengapa orang yang kufur justru tampak tidak berkurang kenikmatannya? Bahkan ada yang hartanya melimpah, jabatannya tinggi, dan tubuhnya sehat.
Dalam perspektif keimanan, kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan nikmat yang sesungguhnya. Bisa jadi, apa yang tampak sebagai kelebihan justru merupakan bentuk ujian atau bahkan azab.
Harta yang bertambah bisa menjerumuskan pada penderitaan batin, jabatan yang tinggi bisa membawa kesengsaraan, dan kesehatan yang prima bisa menjauhkan seseorang dari kesadaran akan hakikat hidup. Dengan demikian, bukan semua yang bertambah itu adalah nikmat, melainkan bisa menjadi beban jika tidak disertai dengan rasa syukur.
Syekh Athoillah As-Sakandari mengingatkan, “Siapa yang tidak mensyukuri nikmat, maka ia seolah-olah telah mengundang hilangnya nikmat tersebut. Dan siapa yang mensyukurinya, maka ia telah mengikat nikmat itu dengan kuat.” Ungkapan ini menegaskan bahwa syukur adalah kunci untuk menjaga dan melanggengkan karunia Allah.
Rasulullah saw juga bersabda bahwa orang yang tidak bersyukur atas nikmat yang sedikit tidak akan mampu bersyukur atas nikmat yang banyak. Bahkan, seseorang yang tidak berterima kasih kepada manusia pada hakikatnya tidak bersyukur kepada Allah Swt. Ini menunjukkan bahwa syukur bukan hanya hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga tercermin dalam hubungan sosial antar sesama manusia.
Jika dilihat dalam skala yang lebih luas, bangsa Indonesia sendiri dianugerahi nikmat yang luar biasa. Dengan luas wilayah sekitar 5,18 juta kilometer persegi, yang terdiri dari 3,25 juta kilometer persegi perairan dan 1,92 juta kilometer persegi daratan, Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia.
Kekayaan sumber daya alamnya pun melimpah, mulai dari hutan tropis terbesar ketiga di dunia, potensi perikanan yang besar, hingga cadangan mineral seperti nikel, timah, dan batu bara yang diakui secara global.
Semua itu merupakan nikmat besar yang seharusnya disyukuri, bukan hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan pengelolaan yang bijak dan bertanggung jawab.
Syukur dalam konteks ini berarti memanfaatkan kekayaan tersebut untuk kemaslahatan bersama, menjaga kelestariannya, serta menjadikannya sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Sebagaimana firman Allah Swt, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur)” (QS. Ad-Duha: 11).
Ayat ini mengingatkan bahwa syukur bukan sekadar perasaan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Dengan demikian, syukur menjadi jalan untuk menjaga nikmat, memperkuat iman, dan meraih keberkahan dalam kehidupan.[]
Prof. Dr. KH. Badruddin Subky M.H.I, Pimpinan Ponpes Al-Badar Kota Bogor.






