NUIM HIDAYAT

Nikmatnya Berislam

Bila kita merenungkan QS. Al-Fatihah ayat 7, di situ Allah Subhanahu wa Taala menjelaskan:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”

Di situ dijelaskan bahwa Islam adalah jalan kenikmatan dan jalan kebahagiaan. Jalan tersebut merupakan jalan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dari mana datangnya kebahagiaan itu? Kebahagiaan itu datang dari nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Taala kepada kita.

Tempat kebahagiaan itu bukan di rumah, halaman, atau dunia ini. Tempat kebahagiaan itu berada di dalam jiwa dan hati.

Kita merasakan kenikmatan dan kebahagiaan ketika salat serta ketika membaca Al-Qur’an. Kebahagiaan itu juga hadir ketika kita berzikir dan melakukan ibadah lainnya.

Mungkin di antara kita ada yang menyatakan bahwa kita juga merasakan kenikmatan ketika makan atau bernyanyi. Kebenaran hal tersebut tidak dapat dimungkiri oleh siapa pun.

Namun, makan tidak akan nikmat kalau hati kita sedang resah. Begitu juga kegiatan fisik lainnya yang tidak akan nikmat kalau hati kita sedang gelisah.

Makanya Al-Qur’an menyatakan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Back to top button