Tafsir Surah Al-Hasyr Ayat 16: Tipu Daya Setan dan Aliansi Palsu Kaum Munafik
Oleh: Rahmatulloh, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Universitas PTIQ Jakarta.
Salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada aspek amtsal (perumpamaan). Amtsal Al-Qur’an merupakan metode retorika yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan Ilahi secara mendalam.
Perumpamaan ini bertujuan mendekatkan pemahaman manusia terhadap perkara yang abstrak. Hal itu dilakukan dengan cara membandingkannya dengan sesuatu yang lebih konkret dan mudah dicerna oleh indra manusia.
Melalui amtsal, Al-Qur’an menjelaskan berbagai tingkatan balasan, baik berupa pahala maupun siksa. Metode ini juga mampu menggambarkan secara gamblang aspek pujian, celaan, pengagungan, hingga penghinaan terhadap suatu perkara.
Selain itu, perumpamaan dalam kitab suci juga berfungsi sebagai sarana untuk meneguhkan kebenaran (al-haq) sekaligus membantah kebatilan. Allah Swt. berfirman:
وَضَرَبْنَا لَكُمُ الْأَمْثَالَ
“…dan Kami telah membuat perumpamaan-perumpamaan untuk kamu.” (QS. Ibrahim [14]: 45).
Hal ini menunjukkan bahwa perumpamaan di dalam Al-Qur’an mengandung hikmah dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia.
Terkait hal ini, ulama pakar tafsir Az-Zamahsyari memberikan catatan penting dalam kitabnya. Beliau berkata, “Pembuatan perumpamaan itu hanya dilakukan untuk membeberkan hal-hal yang bersifat maknawiyah, dan mendekatkan sesuatu yang diragukan menjadi sesuatu yang dapat dilihat.”
Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt. menggambarkan setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia. Karakter utamanya adalah sebagai pengkhianat ulung yang lihai membisikkan tipu daya agar manusia tergelincir ke dalam kekufuran.
Salah satu potret perumpamaan yang sangat kuat mengenai karakter ini terdokumentasi dalam Surah Al-Hasyr ayat 16. Melalui ayat ini, Allah Swt. menjelaskan bagaimana setan membujuk manusia untuk kufur, tetapi langsung berlepas diri setelah korbannya terjerumus.
Ayat ini sekaligus menjadi amtsal bagi perilaku orang-orang munafik. Mereka adalah golongan yang mengkhianati janji setianya kepada kaum Yahudi Bani Nadhir di Madinah.
كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
“… (Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, ‘Kafirlah kamu!’ Kemudian ketika manusia itu telah kafir, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam’.” (QS. Al-Hasyr [59]: 16).
Prof. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perumpamaan dari bentuk rayuan orang munafik kepada Bani Nadhir. Rayuan tersebut bertujuan agar kaum Yahudi berani membangkang terhadap perintah Rasulullah saw.





