IBRAH

Jejak Pengorbanan Khawlah binti al-Azwar di Perang Yarmuk

Dhirar bin al-Azwar adalah salah satu sosok pria yang paling menggebu-gebu kerinduannya untuk kembali memasuki kancah perjuangan karena ia telah telanjur mencintai kehidupan di medan laga. Ia termasuk dalam jajaran penunggang kuda terbaik kaum muslim yang kepiawaiannya telah diakui di seantero medan pertempuran wilayah Persia, bahkan heroisme aksinya senantiasa menjadi buah bibir masyarakat yang dikagumi oleh para musafir di perjalanan.

Saat ini, ia tengah mempersiapkan diri untuk bertolak dalam sebuah ekspedisi militer baru yang dipersiapkan oleh Khalifah Abu Bakar r.a. Ekspedisi tersebut dirancang guna menjadi pasukan bantuan bagi para penakluk Islam yang telah meraih kemenangan.

Dhirar mulai berbincang dengan saudarinya, Khawlah, tentang cita-cita serta rencana matang yang telah disusunnya demi menghancurkan pasukan Romawi dan menumpas para ksatria mereka dengan penuh semangat. Khawlah mendengarkan pemaparan saudara kandungnya itu dengan perhatian yang saksama, hingga tebersit sebuah harapan mendalam agar dirinya bisa ikut andil mengambil peran dalam perjuangan suci tersebut.

Khawlah sendiri adalah seorang gadis yang diberkahi pesona kecantikan dan kebugaran usia muda yang luar biasa. Di dalam aliran darahnya, mengalir kuat jiwa penolong serta ketabahan yang tak pernah gentar menghadapi berbagai kengerian, ditambah lagi ia sangat mahir menunggangi kuda sekaligus tangkas dalam mempergunakan senjata.

Semangat membara untuk berjihad bergejolak hebat di dalam sanubari Khawlah, sehingga ia sangat enggan jika hanya menjadi wanita yang berdiam pasif di dalam rumah tanpa pekerjaan selain bergosip dengan para wanita tua mengenai urusan-urusan yang remeh. Ia pun mengutarakan keinginan terpendamnya tersebut kepada Dhirar, yang langsung disambut baik oleh saudaranya.

Kendati demikian, Dhirar secara jujur mengakui kekhawatiran besarnya atas keselamatan sang adik mengingat betapa kejamnya risiko perang yang bahkan sanggup menyengsarakan para ksatria pria pemberani, terlebih lagi bagi kaum wanita. Namun, Khawlah langsung menyahut pernyataan kakaknya dengan keteguhan iman yang kokoh, “Jika peperangan ini telah diwajibkan atas kalian wahai kaum pria, sesungguhnya Allah pun tidak pernah melarang kami untuk ikut berjihad, melainkan Dia telah menetapkan kewajiban ini atas kami secara setara sebagaimana Dia menetapkannya atas kalian.”

“Maka berangkatlah engkau menunaikan taktik penyerangan dan pertahananmu di medan laga, dan aku pun pasti akan ikut maju bersamamu demi menunaikan porsi tugasku sebagai seorang wanita,” tegas Khawlah dengan mantap. “Aku akan bertugas membawakan perbekalan makanan serta air untuk kalian, juga akan membalut luka para prajurit serta merawat mereka yang cedera.”

“Aku akan selalu membuatmu merasa bahwa aku berada di sisimu untuk memompa keberanianmu dalam menghadapi bahaya, serta mendorongmu sekuat tenaga demi meraih kemenangan mutlak,” tambahnya lagi. Mendengar untaian kalimat yang dilontarkan adiknya dengan penuh semangat membara tersebut, perasaan cemas Dhirar seketika sirna dan berubah menjadi ketenteraman.

Khalifah kemudian resmi melepas keberangkatan pasukan bantuan baru tersebut menuju barisan jajaran tentara muslim, yang di dalamnya terdapat Dhirar dengan didampingi oleh saudarinya, Khawlah. Setibanya di lokasi, Khawlah segera mengambil posisi di dalam barisan pertahanan dan merasa sangat bahagia karena mendapatkan kehormatan suci untuk melayani para pejuang Islam.

Khawlah terbiasa mengamati jalannya pertempuran dengan ketenangan layaknya seorang ahli yang sarat akan pengalaman lapangan. Oleh sebab itu, ia tidak pernah merasa ciut sedikit pun saat melihat pasukan mundur, dan tidak pula menjadi gelap mata oleh ambisi ketika menyaksikan pasukan mendesak maju, karena ia memiliki keteguhan batin serta keberanian hati yang luar biasa.

Ia dikenal sebagai sosok yang sangat dinamis dan memiliki mobilitas tinggi dalam bergerak di medan perang untuk bergegas memberikan air bagi prajurit yang kehausan. Ia juga tanggap mengenali letak para prajurit yang tengah berada dalam sakaratulmaut, serta tangkas membawakan pasokan logistik maupun senjata bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Khawlah turut menjadi saksi hidup dalam pertempuran dahsyat di wilayah Sahura dan merasakan langsung kejamnya kobaran api peperangan di sana. Namun, takdir buruk rupanya harus menimpa dirinya bersama sekian banyak rekan-rekan wanita pejuang lainnya karena mereka jatuh ke dalam tawanan pasukan Romawi.

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button