Ingin Rumah Tangga Samawa? Praktikkan Rumus Saling Mengalah ala Sahabat Abu al-Darda
Belum genap tiga tahun sejak ia lulus dari fakultas kedokteran, ia telah meraih banyak kesuksesan, popularitas, dan dicintai semua orang. Kemungkinan besar, akhlaknya yang mulia memiliki andil besar dalam melahirkan apresiasi yang tinggi tersebut.
Bagi orang-orang yang mengetahui pertumbuhan dokter bernama Karim dan lingkungan tempat tinggalnya, mereka tidak dapat menyembunyikan keheranan atas kondisinya. Hal itu terjadi karena penderitaan masa kecil dan lingkungan sosial yang buruk di sekitar rumahnya sama sekali tidak mendukung pertumbuhan yang baik.
Lantas, dari manakah asal kesopanan tinggi yang ia gunakan saat memperlakukan pasien serta semua orang yang ia temui di berbagai kesempatan? Usut punya usut, kekayaan ayahnya telah membantunya menyelesaikan pendidikan sekolah menengah di tanah airnya.
Berkat keunggulan di bidang sains, ia berhasil memperoleh beasiswa untuk melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran. Atas kehendak Allah, di sana ia mengenal seorang pemuda dari keluarga yang terhormat hingga berhasil meraih kepercayaannya.
Pemuda itu menjadi teman setianya yang hampir tidak pernah terpisahkan baik siang maupun malam. Tak lama kemudian, seluruh temannya berganti menjadi lingkaran orang-orang pilihan yang berkualitas tinggi.
Karim sangat terpengaruh oleh perilaku baik mereka dan bertransformasi menjadi bagian dari mereka yang memiliki pemikiran teratur. Ia mengondisikan dirinya untuk belajar keras sekaligus giat beribadah secara seimbang.
Ia mencurahkan kapasitas berpikirnya untuk mendalami buku-buku kedokteran, seimbang dengan porsi yang ia berikan untuk mengkaji kitab Allah. Ia juga bekerja sama dengan teman-teman pilihannya tersebut untuk meluruskan perilaku menyimpang dari rekan-rekan kuliah mereka.
Karim memilih tinggal mendampingi kedua orang tuanya sebagai anak laki-laki tunggal hingga usianya mendekati tiga puluh tahun. Selama masa itu, ia terus berupaya keras memperbaiki hubungan yang retak di antara keduanya.
Meski ia berhasil meminimalisasi pertengkaran mereka hingga batas maksimal, ia tetap gagal meyakinkan ibunya untuk hidup damai bersama ayahnya. Sang ibu sama sekali tidak memiliki kesabaran untuk menahan diri dari ucapan suaminya, yang ironisnya juga tidak mampu menjaga lisan dari kalimat buruk meski hanya satu jam saja.
Suatu hari, sang ibu datang menghampirinya untuk membuka pembicaraan serius mengenai pernikahan. Sang ibu menyatakan keinginannya untuk melihat cucu-cucunya sebelum ajal menjemput, serta ingin melihat seorang wanita salehah bersanding di sisinya.
Karim tersenyum menanggapi ibunya seraya berkata, “Apa pun akan kulakukan, kecuali pernikahan, wahai Ibu.” Ibunya langsung menyahut, “Aku tidak menginginkan apa pun selain pernikahanmu, lantas sampai kapan aku harus mendengar jawaban yang tidak pernah berubah sejak engkau lulus kuliah ini?”
Karim menatap ke arah tanah lalu menjawab, “Ini akan tetap menjadi jawabanku selama aku belum menemukan gadis yang mampu menggantikan posisi hatimu.” Ibunya menimpali, “Tetapi di antara putri-putri bibimu terdapat banyak kebaikan, maka pilihlah siapa saja yang engkau kehendaki dan dia akan bersamamu dalam beberapa hari.”
Karim kembali tersenyum lalu berkata, “Demikian pula di antara putri-putri pamanku terdapat kebaikan, bukankah begitu?” Ibunya membalas, “Sama sekali bukan, itu adalah kalimat ayahmu yang engkau suarakan kembali di hadapanku; lagipula bagaimana mungkin bintang tsuraya disetarakan dengan tanah!”






