Ketika Sepak Bola Mampu Menyatukan Dunia, Mengapa Ukhuwah Islamiyah Masih Ternoda?
Oleh: Andrian Permana, Mahasiswa S3 King Fahd University of Petroleum and Minerals.
Piala Dunia FIFA bukan sekadar turnamen sepak bola biasa. Ajang ini mampu menghentikan rutinitas miliaran orang secara serentak di berbagai belahan dunia.
Begitu pertandingan dimulai, jalanan di banyak kota mendadak sepi dan kafe-kafe penuh sesak oleh pengunjung. Lini masa media sosial pun dibanjiri obrolan soal gol, taktik, sampai prediksi juara turnamen.
Selama 90 menit di lapangan hijau, perbedaan bahasa, budaya, bahkan agama seolah lenyap begitu saja. Semua orang larut dalam euforia yang sama.
FIFA mencatat Piala Dunia sebagai salah satu ajang olahraga dengan penonton terbanyak di dunia. Ajang ini disaksikan oleh miliaran pasang mata dari ratusan negara.
Turnamen akbar tersebut sekaligus menggerakkan industri bernilai miliaran dolar, mulai dari hak siar hingga sektor pariwisata. Dari fenomena ini, terlihat jelas bahwa manusia ternyata bisa dipersatukan hanya oleh sebuah permainan.
Namun, ada pertanyaan yang cukup mengganjal di balik euforia besar tersebut. Jika sepak bola saja bisa menyatukan manusia dari berbagai bangsa, mengapa umat Islam yang memiliki akidah sama justru masih terpecah dalam begitu banyak sekat?
Persatuan yang Dibangun oleh Identitas Nasional
Piala Dunia merupakan panggung nyata bagi perayaan nasionalisme. Para suporter mengenakan warna bendera negaranya dan menyanyikan lagu kebangsaan dengan lantang.
Mereka bahkan rela merogoh kocek besar demi mendukung tim nasional secara langsung. Tidak ada yang salah dengan cinta tanah air, selama hal itu tidak berubah menjadi fanatisme yang berlebihan.
Namun, turnamen ini memperlihatkan betapa kuatnya identitas nasional dalam menjadi perekat sosial. Jutaan orang dapat bersatu karena memiliki simbol dan tujuan yang sama.
Ironisnya, umat Islam sebenarnya memiliki ikatan yang jauh lebih kuat daripada sekadar kesamaan kewarganegaraan. Seorang Muslim di Indonesia, Turki, Nigeria, Pakistan, atau Arab Saudi menghadap ke kiblat yang sama.
Mereka juga membaca Al-Qur’an yang sama serta mengucapkan kalimat syahadat yang sama. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat: 10).
Firman tersebut bukan sekadar anjuran moral, melainkan sebuah penegasan teologis. Persaudaraan adalah konsekuensi langsung dari keimanan seseorang, tetapi kenyataannya sering kali berbeda.






