Ketika Rumah Tak Lagi Jadi Madrasah Pertama
Rumah bukan sekadar tempat berteduh dari panas dan hujan. Lebih dari itu, rumah adalah tempat pertama seorang manusia belajar mengenal kehidupan. Di sanalah karakter dibentuk, akhlak ditanamkan, dan keimanan mulai disemai.
Dalam Islam, keluarga merupakan al-madrasatul ula (sekolah pertama). Seorang ayah berperan sebagai pemimpin keluarga, sementara seorang ibu menjadi pendidik utama yang membersamai tumbuh kembang anak-anaknya.
Namun, sudahkah rumah-rumah kita hari ini benar-benar menjalankan fungsi tersebut? Saya kira belum.
Pasalnya, berbagai pemberitaan di media massa dan media sosial memperlihatkan wajah keluarga yang kian memprihatinkan.
Kasus kekerasan dalam rumah tangga, anak yang mengalami luka batin akibat pola asuh yang keliru, hingga suami yang terjerat judi daring dan pinjaman online menjadi potret yang terus berulang.
Begitu pula anak-anak yang terseret pergaulan bebas, tawuran, penyalahgunaan narkoba, bahkan penyimpangan perilaku. Semua itu tentu bukan terjadi tanpa sebab.
Salah satu fondasi utama dalam keluarga adalah komunikasi. Hubungan yang hangat antara suami dan istri, kedekatan orang tua dengan anak, serta keterbukaan dalam menyelesaikan persoalan merupakan penyangga kokohnya sebuah rumah tangga.
Sayangnya, kehangatan itu perlahan mulai terkikis. Kehadiran gawai yang semestinya menjadi alat bantu justru sering mengambil alih ruang-ruang percakapan di dalam rumah.
Setiap anggota keluarga sibuk dengan layarnya masing-masing, sementara hati mereka semakin berjauhan.
Ketika komunikasi melemah, kesalahpahaman mudah muncul dan konflik kecil membesar. Hal ini akhirnya melahirkan berbagai persoalan yang mengancam keutuhan keluarga.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada lemahnya komunikasi. Akar masalah yang lebih mendasar adalah ketika agama tidak lagi menjadi landasan dalam membangun kehidupan keluarga.
Rumah hanya dipandang sebagai tempat tinggal, bukan sebagai tempat menanamkan keimanan dan membentuk kepribadian Islam.
Akibatnya, pendidikan anak lebih banyak diserahkan kepada sekolah, lingkungan, atau media digital. Sementara itu, orang tua kehilangan peran sebagai pendidik utama.






