RESONANSI

Buku Baru, Cara Belajar Lama

Oleh: Fajri

Evaluasi buku pelajaran seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara anak belajar, bukan sekadar mengganti isi buku. Perubahan ini mutlak diperlukan demi masa depan pendidikan.

Ketika Presiden Prabowo Subianto meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah membentuk tim untuk mempelajari serta mengevaluasi kembali buku ajar di sekolah, ada satu hal yang patut diapresiasi. Pemerintah akhirnya menyadari bahwa bahan ajar tidak boleh terlepas dari perubahan zaman.

Perintah itu disampaikan dalam rapat terbatas di Istana Merdeka pada 11 Juni 2026. Buku pelajaran diminta disesuaikan dengan perkembangan zaman dan teknologi agar pendidikan Indonesia tidak tertinggal.

Namun, evaluasi buku seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah isi buku kita masih mutakhir. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yaitu apakah buku baru tersebut akan digunakan dengan cara belajar yang baru pula.

Sebab, kita bisa saja memiliki buku yang lebih bagus, lebih modern, lebih kaya ilustrasi, bahkan lebih relevan dengan perkembangan teknologi. Akan tetapi, jika guru tetap mengajar dengan pola lama, murid tetap belajar dengan menghafal, dan keberhasilan belajar tetap terutama diukur dari kemampuan memilih jawaban yang benar, yang berubah mungkin hanya bukunya, sedangkan cara belajarnya tetap sama.

Di sinilah evaluasi buku pelajaran seharusnya menjadi momentum yang lebih besar. Momentum ini merupakan kesempatan untuk mengevaluasi kembali cara kita memahami pendidikan.

Buku Bukan Sekadar Kumpulan Materi

Buku pelajaran tidak pernah sekadar kumpulan halaman yang berisi definisi, rumus, gambar, dan soal. Di dalamnya terdapat gambaran tentang sosok manusia seperti apa yang ingin dibentuk oleh pendidikan.

Jika sebuah buku terutama mengajarkan anak untuk menghafal, kita sedang membentuk pembelajar yang kuat dalam mengingat. Sebaliknya, jika buku membiasakan anak bertanya, membandingkan, mencari bukti, menyusun argumen, dan memecahkan masalah, kita sedang membentuk manusia yang belajar berpikir.

Karena itu, buku pelajaran sesungguhnya adalah salah satu instrumen pembentukan budaya belajar. Persoalannya, dunia tempat anak-anak belajar hari ini telah berubah secara drastis.

Dahulu, buku menjadi salah satu pintu utama menuju pengetahuan. Guru menjadi pintu berikutnya, sedangkan sekolah menjadi ruang tempat keduanya bertemu.

Hari ini, seorang anak dapat memperoleh informasi dari internet, video, perpustakaan digital, berbagai platform pembelajaran, dan artificial intelligence. Dalam hitungan detik, ia dapat memperoleh penjelasan mengenai sesuatu yang dahulu mungkin membutuhkan berjam-jam untuk ditemukan.

Maka, buku pelajaran menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Buku tidak lagi cukup hanya menjadi tempat anak menemukan jawaban, tetapi juga harus membantu anak menemukan pertanyaan.

1 2 3 4Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button