Buku Baru, Cara Belajar Lama
Anak yang Naik Kelas, tetapi Kemampuannya Tertinggal
Pengalaman di ruang kelas memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan kita bahkan lebih mendasar daripada sekadar kualitas buku. Masalah ini dialami langsung di lapangan.
Sebagai guru di tingkat SMP, saya pernah menemukan siswa kelas VII yang kemampuan menulis tangannya masih sangat dasar, menyerupai anak yang baru belajar menulis di kelas awal sekolah dasar. Ada pula siswa yang masih mengalami kesulitan membaca dengan lancar.
Dalam keadaan seperti itu, mengganti buku pelajaran tentu tidak cukup. Anak membutuhkan guru yang mampu membaca kesulitannya, pendampingan yang tepat, asesmen yang mampu mendeteksi ketertinggalan sejak dini, serta sistem sekolah yang memastikan persoalan tidak terus terbawa dari satu jenjang ke jenjang berikutnya.
Artinya, persoalan pendidikan bukan hanya apa yang ada di dalam buku. Masalah sebenarnya jauh lebih luas.
Persoalannya adalah apa yang terjadi setelah buku itu dibuka. Apakah anak benar-benar membaca? Apakah ia memahami? Apakah ia mampu menjelaskan dengan bahasanya sendiri?
Apakah ia mampu mempertanyakan isi bacaan? Apakah ia mampu menggunakan pengetahuan itu untuk memecahkan persoalan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui berapa banyak halaman yang telah diselesaikan. Pengukuran keberhasilan harus diubah.
Jangan Hanya Memperbarui Buku, Perbarui Ekosistemnya
Karena itu, evaluasi buku pelajaran semestinya dilakukan secara menyeluruh. Buku perlu dilihat bukan sebagai produk yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
Ada guru yang menggunakannya dan ada siswa yang membacanya. Ada kepala sekolah yang memastikan proses pembelajaran berjalan, ada asesmen yang mengukur hasilnya, serta ada perpustakaan yang menyediakan bacaan pendamping.
Selain itu, ada orang tua yang membangun kebiasaan belajar di rumah dan ada kebijakan pendidikan yang menentukan arah keseluruhannya. Semua komponen ini saling memengaruhi.
Indonesia bahkan telah memiliki Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) yang menyediakan buku teks Kurikulum Merdeka, buku teks K-13, dan buku nonteks secara digital. Hal ini menunjukkan bahwa akses terhadap buku semakin mudah.
Namun, akses bukanlah akhir dari persoalan. Anak bisa memiliki akses terhadap ribuan buku dan tetap tidak menjadi pembaca.
Sekolah bisa memiliki perpustakaan dan tetap miskin budaya membaca. Guru bisa memiliki akses terhadap teknologi dan tetap mengajar dengan paradigma lama.
Karena itu, tantangan sesungguhnya bukan hanya menyediakan pengetahuan, melainkan membangun manusia yang mau dan mampu belajar.






