RESONANSI

Buku Baru, Cara Belajar Lama

Ketika Mesin Semakin Pandai Menjawab

Kehadiran artificial intelligence membuat persoalan ini semakin mendesak untuk diselesaikan. Jika sebuah buku hanya mengajarkan bahwa fotosintesis adalah proses tertentu, hukum Newton memiliki rumus tertentu, atau suatu peristiwa sejarah terjadi pada tahun tertentu, mesin dapat menyampaikan informasi itu jauh lebih cepat.

Namun, pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan mengetahui belaka. Justru ketika mesin semakin mudah memberikan jawaban, manusia harus semakin terampil mengajukan pertanyaan. Mengapa hal itu terjadi? Apa buktinya? Apakah sumber tersebut dapat dipercaya? Adakah penjelasan lain? Apa akibatnya jika pengetahuan itu diterapkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa anak dari sekadar menerima informasi menuju kemampuan berpikir.

Karena itu, buku pelajaran masa depan semestinya tidak hanya berisi materi dan latihan soal. Buku harus memberi ruang bagi rasa ingin tahu, penyelidikan, perdebatan gagasan, pemecahan masalah, refleksi, dan kemampuan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

Pemerintah sendiri kini mendorong pendekatan deep learning. Mendikdasmen Abdul Mu’ti, misalnya, menyebut pendekatan tersebut dapat memperkuat literasi dengan mendorong murid membaca dan mampu menjelaskan kembali isi buku dengan bahasa mereka sendiri.

Langkah ini sangat penting. Sebab, membaca bukan sekadar menyelesaikan halaman, belajar bukan sekadar menyelesaikan materi, dan pendidikan bukan sekadar menyelesaikan kurikulum.

Jangan Sampai Buku Berubah, tetapi Paradigma Tetap Sama

Di sinilah kita perlu berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Mengganti buku jauh lebih mudah daripada mengubah budaya belajar.

Buku dapat ditulis ulang, dicetak, didistribusikan, dan diunggah ke platform digital. Namun, mengubah cara guru mengajar dan cara siswa belajar membutuhkan proses yang jauh lebih rumit dan melelahkan.

Guru membutuhkan pengembangan profesional, sekolah membutuhkan budaya belajar, serta kepala sekolah membutuhkan kapasitas kepemimpinan akademik. Asesmen harus ikut berubah, bahkan orang tua perlu memahami bahwa anak belajar bukan hanya untuk memperoleh nilai.

Jika tidak, buku baru hanya akan menjadi wajah baru dari paradigma lama. Ini berisiko mematikan kreativitas.

Kita bisa memiliki buku yang berbicara tentang kreativitas, tetapi pembelajarannya tetap meminta anak menghafal. Kita bisa memiliki buku yang berbicara tentang berpikir kritis, tetapi ujian tetap lebih menghargai satu jawaban yang dianggap paling benar.

Kita bisa memiliki buku yang berbicara tentang teknologi, tetapi siswa tetap dilarang bertanya bagaimana teknologi itu bekerja dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan. Pada titik itulah reformasi bahan ajar kehilangan sebagian maknanya.

Buku berubah, tetapi cara belajar tidak. Hal ini tentu memprihatinkan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button