OASE

Ujian Hidup: Ketika Nikmat Pun Menjadi Ujian

Oleh: Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid), Kepala Pesantren Kader Ulama dan Markaz Al-Qur’an di Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI (PPIC eLKISI) Mojokerto, Jawa Timur.

Ada seorang ibu yang mengeluhkan anaknya. Sekolah dijalani dengan berat, setiap berangkat selalu ada drama, belajar harus dipaksa, bahkan salat pun harus berkali-kali diingatkan.

Sang ibu merasa lelah dan bertanya-tanya mengapa mendidik anak terasa begitu sulit.

Seseorang kemudian menasihatinya, “Bu, jangan hanya melihat anak Ibu sedang diuji. Bisa jadi Ibu juga sedang diuji melalui anak Ibu.”

Kalimat sederhana itu sebenarnya membuka cara pandang yang lebih luas tentang kehidupan. Kita sering memahami ujian hanya sebagai sesuatu yang buruk.

Ketika sakit, kehilangan, gagal, bangkrut, atau menghadapi anak yang bermasalah, kita segera berkata bahwa ini ujian dari Allah Swt.

Namun, ketika anak lulus dengan nilai terbaik, diterima di sekolah favorit, atau memperoleh pekerjaan impian, kita menyebutnya anugerah—seolah-olah ketika nikmat datang, ujian telah selesai.

Padahal, Al-Qur’an menegaskan hal tersebut dengan sangat jelas:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35).

Perhatikan frasa bisy-syarri wal-khairi (keburukan dan kebaikan). Keduanya sama-sama dapat menjadi bentuk ujian.

Bahkan, Al-Qur’an membongkar kekeliruan manusia ketika menilai kemuliaan dan kehinaan hanya berdasarkan banyak atau sedikitnya kenikmatan. Allah Swt. berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’” (QS. Al-Fajr: 15).

Sebaliknya, ketika rezekinya dibatasi, manusia berkata:

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Namun, apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’” (QS. Al-Fajr: 16).

Padahal, Allah Swt. tidak sedang mengatakan bahwa banyaknya nikmat otomatis berarti kemuliaan dan sedikitnya nikmat otomatis berarti kehinaan.

Ayat tersebut justru membongkar cara berpikir manusia yang terlalu cepat menyamakan nikmat dengan kemuliaan serta kesulitan dengan kehinaan.

Sebab, yang sesungguhnya terjadi adalah ibtila’ (ujian). Ketika Allah Swt. memberi kelapangan, manusia sedang diuji, dan ketika Allah Swt. memberi kesempitan, manusia juga sedang diuji.

Pertanyaannya bukan semata-mata berapa banyak yang kita terima, melainkan bagaimana kita merespons apa yang Allah Swt. berikan.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button