Jakarta (Suaraislam.id) — Lebih dari 2.000 orang— yang sebagian besarnya adalah anak-anak—diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak Selasa (1/9/2026) hingga Selasa (8/9/2026).
Lokasi kejadian tersebar di berbagai daerah. Kasus ini ditemukan mulai dari Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur; Kabupaten Rembang, Jawa Tengah; hingga Kabupaten Agam, Sumatra Barat; dan Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Kejadian terbaru berlangsung di Rembang, Jawa Tengah, pada Selasa (8/9/2026). 200 siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Rembang mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG. Lokasi gedung sekolah ini berdampingan dengan SMAN 1 Lasem yang satu pekan lalu juga dilanda insiden dugaan keracunan MBG.
Kepala MAN 2 Rembang, Akhmad Suhadak Solikin, menyampaikan bahwa gejala dugaan keracunan berlangsung pada Selasa (8/9/2026) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, sejumlah murid tiba-tiba berlarian mengantre ke 46 toilet sekolah.
“Pagi ini sejumlah siswa bergiliran masuk toilet. Saat kami tanya, mereka mengalami kepala pusing, mual, muntah, dan diare usai menyantap MBG,” kata Akhmad kepada wartawan Nugroho Dwi Putranto yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (8/9/2026).
Menurut Akhmad, ada sebanyak 200 siswa dan tujuh guru MAN 2 Rembang yang mengalami gejala keracunan makanan, seperti muntah dan diare.
“Sebanyak 29 anak dibawa ke Puskesmas Lasem hingga kemudian 15 siswa di antaranya harus rawat inap. Sisanya, alhamdulillah, sudah pulang,” kata Akhmad.
Menurut Akhmad, para siswa dan guru diduga mengalami keracunan setelah menyantap MBG yang diterima dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngemplak pada Senin (7/9/2026) siang.
Menu MBG berupa nasi, oseng jagung pipil, kari ayam, tahu bacem, dan buah melon itu tiba di sekolah pukul 10.20 WIB dan dibagikan kepada siswa pukul 11.57 WIB.
Salah satu wali murid mengatakan bahwa putranya mengalami mual, muntah, dan diare pada Senin (7/9/2026) sore sepulang sekolah.
“Hari ini sudah membaik karena dapat pengobatan dari Puskesmas Lasem, tidak sampai parah hingga opname,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Ngemplak, CV Sinergi Bersinar, Raditya Adi Pratama, menyampaikan permohonan maaf kepada pihak MAN 2 Rembang dan juga wali murid.
“Kami meminta maaf sebesar-besarnya dan bertanggung jawab sepenuhnya. Ini di luar perkiraan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Saat ini kami fokus ke perawatan di Puskesmas Lasem,” pungkasnya.
Di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, korban terdampak telah mencapai 730 orang. Dari jumlah tersebut, 706 orang telah diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan, menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, pada Kamis (3/9/2026).






