TECHNOTAINMENT

Bos YouTube Tolak Usulan Kesepakatan Keamanan Remaja Meta

WASHINGTON (Suaraislam.id)CEO YouTube Neal Mohan menolak secara tegas desakan agar perusahaannya bergabung dalam kesepakatan damai lintas negara bagian yang diajukan Meta. Gugatan tersebut berkaitan dengan tuduhan bahwa platform media sosial turut memicu krisis kesehatan mental di kalangan generasi muda.

Mohan menegaskan bahwa YouTube telah menerapkan berbagai langkah perlindungan yang ekstensif dan komprehensif bagi para pengguna muda jauh sebelum isu ini mencuat.

“Kami telah berinvestasi untuk memastikan bahwa anak-anak muda aman di platform kami… selama kurun waktu yang sangat lama,” kata Mohan kepada CNN pada Rabu (23/9/2026). Ia menyatakan bahwa YouTube akan terus memprioritaskan keselamatan anak-anak sembari mengembangkan fitur-fitur baru bagi kreator dan penonton.

Meta baru-baru ini menyetujui nilai penyelesaian (settlement) sebesar 18 miliar dolar AS (sekitar Rp282 triliun) dengan sejumlah negara bagian. Kesepakatan ini memayungi tuduhan bahwa platform milik Meta dirancang secara sengaja untuk memicu kecanduan serta memperburuk mental remaja.

Guna meringankan beban tersebut, Meta mendesak para pesaingnya—termasuk YouTube dan TikTok—untuk menerapkan standar keamanan serupa.

Poin-poin usulan Meta mencakup pembatasan durasi penggunaan aplikasi bagi remaja, penghapusan fitur jumlah penyuka (like), hingga pembentukan lembaga pengawas independen.

Meta Desak Pesaing Ikut Terapkan Pembatasan

Guna memuluskan rencananya, Meta melancarkan imbauan publik dan kampanye iklan untuk menggaet perusahaan teknologi lain agar mengadopsi mekanisme serupa.

Di bawah ketentuan kesepakatan tersebut, Meta menyatakan hanya akan membayar 70 persen dari total ganti rugi. Syaratnya, TikTok dan YouTube harus mau menyumbang masing-masing sekitar 6 miliar dolar AS (sekitar Rp94 triliun) serta menerapkan aturan keselamatan yang sebanding.

Jaksa Agung California Rob Bonta menegaskan bahwa pemerintah negara bagian siap mengambil langkah hukum terhadap TikTok dan YouTube apabila kedua raksasa teknologi tersebut menolak berpartisipasi.

Menanggapi hal itu, Mohan membeberkan sejumlah fitur perlindungan yang telah beroperasi di YouTube. Fitur tersebut mencakup kontrol orang tua yang memungkinkan pembatasan durasi menonton Shorts, layanan video pendek milik YouTube.

Ia juga menambahkan bahwa YouTube selalu melibatkan pakar independen saat merancang fitur-fitur keamanan anak.

“Kami adalah platform yang sangat berbeda (dari Meta),” ujar Mohan seraya menekankan fokus YouTube yang kini banyak diakses melalui layar televisi keluarga di rumah.

Hingga saat ini, TikTok belum memberikan tanggapan resmi atas desakan Meta tersebut, sementara pihak Kejaksaan Agung California belum merespons balik posisi tegas yang diambil YouTube.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button