Begini Freelancer Gaza Bertahan Hidup Lewat Ekonomi Digital
Sebelum perang meletus pada Oktober 2023, Gaza sebenarnya memiliki iklim industri teknologi yang tumbuh pesat. Keterbatasan akses akibat blokade ketat perbatasan membuat pekerjaan jarak jauh (remote work) seperti pemrograman dan desain grafis menjadi solusi utama pemuda Gaza menembus keterisolasian.
Lembaga nirlaba Gaza Sky Geeks yang didirikan oleh Google dan Mercy Corps pada 2012 sempat mengoperasikan tiga pusat pelatihan. Meski dua gedungnya hancur akibat gempuran militer, Mercy Corps terus mendukung munculnya ruang kerja bersama baru yang mengandalkan generator listrik serta panel surya.
Upaya ini menjadi tumpuan vital mengingat sistem kelistrikan Gaza lumpuh dan 75 persen jaringan telekomunikasi mengalami kerusakan fatal.
Semangat bertahan hidup juga ditunjukkan oleh Tarik Zaeem (44), mantan Chief Technology Officer (CTO) perusahaan lokal yang kini beralih menjadi pemrogram lepas (freelance programmer) di Kota Gaza.
“Saat bekerja di depan laptop, saya melupakan segalanya. Saya melupakan apa yang telah terjadi,” ujar Tarik.
Penghasilannya mengalir untuk menghidupi istri dan tiga anaknya yang kini mengungsi di Mesir. Namun, pencairan uang hasil kerja kerasnya kerap terkendala akibat krisis uang tunai, kelumpuhan perbankan, dan besarnya potongan biaya perantara.
“Jumlahnya tidak cukup untuk hidup layak,” katanya. “Hanya cukup untuk kebutuhan dasar.”
Situasi kerja para freelancer ini tetap diselimuti bahaya nyata di lapangan. Meskipun terdapat upaya gencatan senjata, serangan udara militer Israel masih dilaporkan terjadi dan kerap memakan korban jiwa dari kalangan sipil, termasuk para pelajar yang sedang beraktivitas secara daring.
Risiko kekerasan yang membayangi tidak menyurutkan komitmen para pekerja teknologi Gaza untuk profesional kepada para klien global.
“Jika kami mendapatkan proyek teknologi informasi yang membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan, kami biasanya mengatakan kepada klien: ‘Harap diketahui bahwa seluruh pekerjaan akan dilakukan secara online. Jika kami terbunuh, pekerjaan Anda tetap akan selesai dan diserahkan kepada Anda’,” kata pekerja teknologi lainnya, Mahran Bayed.
Mahran yang kini tinggal di tenda pengungsian dekat reruntuhan Rumah Sakit Al-Shifa terpaksa membawa monitor eksternal ke mana pun ia bekerja karena layar laptopnya pecah akibat pengeboman.
“Saya kehilangan semua peralatan saya, kehilangan rumah, kehilangan kantor,” kenang Mahran. “Saat itu saya merasa seolah ini adalah akhir dari segalanya di Gaza.”






