Begini Freelancer Gaza Bertahan Hidup Lewat Ekonomi Digital
Kini Mahran menemukan kembali motivasinya lewat pengerjaan proyek aplikasi dan situs web untuk klien internasional.
“Dari Gaza, saya bisa berkolaborasi dengan tim di berbagai belahan dunia dan bekerja bersama orang-orang yang belum pernah saya temui sebelumnya,” katanya. “Itulah salah satu hal yang paling saya sukai dari teknologi.”
Perjuangan Mahran dan teknisi di Gaza makin berat karena otoritas pertahanan Israel (Cogat) melarang impor komputer dan suku cadangnya, dengan dalih kategori barang “penggunaan ganda” (dual-use). Para teknisi lokal pun terpaksa merakit dan mereparasi perangkat menggunakan kanibalisasi suku cadang bekas.
Di Deir al-Balah, perjuangan Walaa Volidis mulai membuahkan hasil manis setelah lembaga rintisan TAP membantunya terhubung dengan jaringan profesional. Ia berhasil diterima bekerja penuh waktu pada sebuah perusahaan yang berbasis di Dubai.
Fokus utamanya saat ini adalah membiayai pengobatan adiknya yang menderita limfedema akibat cedera perang, serta mengejar beasiswa pendidikan di luar negeri.
“Harapan pertama saya adalah membantu keluarga saya memiliki kehidupan yang lebih baik dan membantu adik saya keluar dari Gaza agar bisa mendapatkan pengobatan,” kata Walaa.
“Selain itu, saya juga berusaha untuk diri saya sendiri, mencari beasiswa agar bisa melanjutkan perjalanan dan studi di luar Gaza.”
Keberadaan para pekerja teknologi ini memberikan secercah gambaran tentang ketangguhan dan masa depan Gaza yang lebih baik di tengah kebuntuan proses pemulihan wilayah tersebut. []
Yolande Knell
Sumber: BBC News Indonesia






