Dakwah dan Cinta: Memoar Seorang Aktivis Mahasiswa Islam (1)
Ali yang sejak kecil tidak terbiasa bergaul dengan lawan jenis menjadi sangat kikuk. Sepulang sekolah ia justru kebingungan karena ada perasaan aneh yang bergetar di dalam dadanya.
Suatu hari Umi mengajak Ali untuk pulang bersama. Dalam perjalanan, Umi berkata sambil tersenyum, “Itu tuh mirip Indra Lesmana.”
Ali yang sama sekali tidak mengenal musisi tersebut malah menjawab dengan polos, “Jangan mengejek dong.”
Umi hanya terdiam mendengar respons tersebut. Walaupun Ali menyukai musik, ia hampir tidak mengenal penyanyi-penyanyi Indonesia.
Beberapa kali percakapan mereka tidak menyambung. Lama-kelamaan Umi mulai menjauh dan akhirnya lebih akrab dengan teman laki-laki yang lain.
Ali hanya bisa memendam kekecewaannya seorang diri. Padahal, sejak SMA Ali sudah bercita-cita menjadi seorang wartawan.
Ia senang melihat para jurnalis meliput berbagai peristiwa dan menyampaikannya kepada masyarakat. Menjelang kelulusan, sekolah mengumumkan ada dua belas murid yang diterima di IPB dan Ali termasuk salah satunya.
Saat mengisi formulir SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), ia memilih dua jurusan, yaitu Sastra Arab di UGM dan salah satu jurusan di IPB. Ternyata takdir membawanya diterima di IPB dan ia sangat bersyukur atas kesempatan itu.
Dengan membawa cita-cita menjadi wartawan, Ali pun berangkat merantau ke Bogor. Saat itu, seluruh mahasiswa baru harus mengikuti program matrikulasi selama setahun untuk mata kuliah dasar.
Pada percobaan pertama program tersebut, Ali mengalami kegagalan sehingga ia harus mengulang. Namun, dengan kerja keras akhirnya ia berhasil lulus.
Ia bahkan masih mengingat kemurahan hati seorang dosen yang mengubah nilai salah satu mata kuliahnya dari D menjadi B. Berkat kebaikan itu, ia dapat melanjutkan kuliahnya.
Kebiasaan mengaji sejak kecil membuat Ali rajin datang ke Masjid Al-Ghifari setiap hari Ahad. Selain mengikuti kuliah duha, ia aktif membina remaja dan anak-anak di lingkungan tersebut.
Karena kesungguhannya dalam beraktivitas, ia dipercaya menjadi Sekretaris Birena (Bina Remaja dan Anak-anak) Masjid Al-Ghifari IPB. Di masjid itulah Ali bertemu seorang mahasiswi cantik bernama Indina, yang akrab dipanggil Indi.






