Dakwah dan Cinta: Memoar Seorang Aktivis Mahasiswa Islam (1)
Melalui seorang teman bernama Hayu, Agus menanyakan apakah hubungan Ali dan Rita benar-benar serius. Jika tidak, Agus berniat untuk segera melamar Rita.
Setelah mendengar kesungguhan Agus, Ali memilih untuk mundur dari lingkaran itu. Ia tidak ingin bersaing dalam urusan cinta dan dalam hatinya ia yakin Allah Swt. akan memberikan pengganti yang lebih baik.
Akhirnya Agus dan Rita resmi menikah. Ali tetap berbesar hati datang menghadiri pernikahan mereka yang digelar di Jakarta.
Di balik senyum ramah yang ia tampilkan, hatinya sebenarnya sedang diliputi kesedihan yang mendalam. Jika Indina dan Rita adalah dua gadis berjilbab yang pernah singgah di hati Ali, maka sosok Lia sangat berbeda.
Lia berasal dari Bandung, berwajah cantik, modis, dan saat itu belum berjilbab. Lia mulai tertarik kepada Ali setelah melihatnya menjadi salah satu kandidat Ketua Himpunan Profesi di kampus.
Meskipun Ali akhirnya hanya menempati posisi kedua dari tiga calon, pidato kampanyenya meninggalkan kesan mendalam bagi Lia. Meski aktif di Lembaga Dakwah Kampus, Ali juga senang menonton film di bioskop.
Kebiasaan itu tanpa sadar memengaruhi cara pandangnya terhadap Lia. Baginya, Lia memiliki pesona kecantikan layaknya seorang artis.
Ali mulai sering memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Ironisnya, Lia sebenarnya adalah adik tingkat Ali di kampus.
Namun, karena Ali pernah mengulang beberapa mata kuliah, mereka akhirnya sering berada di dalam kelas yang sama. Suatu hari mereka bertemu di depan rumah kos Lia.
“Mas, tolong buatkan tulisan untuk tugas kuliah, ya. Please…” Rayuan sederhana itu seketika membuat dada Ali berdebar kencang.
Belum pernah ada perempuan yang berbicara kepadanya dengan nada seperti itu. Ali segera menuju musala kampus dan menulis sebuah artikel tentang pentingnya membaca buku.
Lia sangat berterima kasih atas bantuan tersebut. Sejak saat itu, hubungan mereka berdua menjadi semakin akrab.






