NUIM HIDAYAT

Dakwah dan Cinta: Memoar Seorang Aktivis Mahasiswa Islam (1)

Indina sebenarnya merupakan kakak tingkat Ali di kampus. Karena hampir setiap hari bertemu dan sering berbincang, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara keduanya.

Suatu hari Indina mengajak Ali berkunjung ke Museum Botani di Bogor bersama saudara perempuannya. Di sela-sela kunjungan itu, Ali memberanikan diri untuk bertanya, “Apa yang kamu sukai dari aku?”

Indina tersenyum mendengar pertanyaan itu, lalu menjawab, “Matamu.” Jawaban sederhana tersebut terus membekas dalam ingatan Ali.

Beberapa kali Indina memberi isyarat agar Ali berkunjung ke rumahnya. Namun, Ali kurang peka dalam menangkap kode-kode tersebut.

Hingga suatu hari, ia mendengar kabar bahwa Indina telah dilamar oleh seorang kakak tingkat yang lebih senior. Lelaki itu dikenal lebih mapan dan sama-sama berwajah tampan sehingga Ali hanya bisa menghela napas panjang.

Pada tahun kedua kuliah, Ali kembali dipertemukan dengan seorang aktivis Masjid Al-Ghifari bernama Rita. Mereka sering berbincang, bahkan sesekali Ali berkunjung ke rumah kos Rita.

Suatu hari Ali dikejutkan oleh sepucuk surat ucapan Selamat Idulfitri dari Rita. Dalam surat itu, Rita juga mencantumkan alamat rumah tinggalnya di Bandung.

Ketika menghadiri Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) di Bandung, Ali kembali bertemu dengan Rita. Sayangnya mereka tidak sempat berbicara lama dan Ali hanya memandang gadis berjilbab itu dari kejauhan saat pulang.

Hubungan mereka dirasakan semakin dekat dari hari ke hari. Suatu hari Rita mengajak Ali berbincang berdua di Taman Koleksi Kampus IPB untuk menceritakan berbagai kesulitannya tinggal di asrama mahasiswi.

Keduanya sadar bahwa mereka saling menyukai. Namun, mereka sama-sama bingung bagaimana harus melanjutkan hubungan tersebut ke jenjang berikutnya.

Setelah suatu malam selesai melaksanakan salat tahajud, Ali menyampaikan keinginannya kepada saudaranya untuk menikah. Jawaban yang diterimanya justru berupa penolakan keras.

“Kuliah belum selesai. Mau menafkahi istri dengan apa?” Pertanyaan itu seketika membuat Ali sangat tertekan.

Ia tidak tahu bagaimana harus mempertahankan hubungannya dengan Rita di tengah keterbatasan itu. Sementara itu, kecantikan Rita juga menarik perhatian banyak laki-laki lain, salah satunya Agus.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya
Back to top button