Dari Industri, Gentayang Layar, yang Terasing Hingga Buya Syafii
Yang Terasing
Contoh paling dekat saat ini dapat dilihat dari cara masyarakat berkomunikasi sehari-hari. Keterhubungan antarindividu mulai terasa kering dan hampa tanpa menghasilkan impresi emosional yang mendalam.
Kita telah hidup di suatu masa ketika pertemuan tatap muka hanya menjadi sekadar formalitas belaka. Pertemuan fisik sekadar digunakan untuk menuntaskan urusan yang belum terselesaikan lewat platform maya.
Di sisi lain, layar platform media sosial juga telah mengubah banyak cara hidup manusia. Proses memulai percakapan dan menanggapi persoalan sering kali dilakukan secara tergesa-gesa serta berakhir pada penghakiman.
Melalui pola algoritma, pikiran masyarakat tidak hanya terdistraksi oleh arus informasi yang cepat. Pikiran tersebut diam-diam dibentuk tanpa pernah disadari sepenuhnya oleh pengguna.
Kekhawatiran serupa dapat ditemukan kembali dalam pemikiran Noam Chomsky. Dalam sebuah wawancara bersama Barry Pateman pada tahun 2004, Chomsky membongkar kenyataan tersebut.
Bagi Chomsky, masyarakat yang menghabiskan waktu di dalam layar gawai patut disebut sebagai orang yang hidup dalam dunia imajiner. Dunia ini memiliki karakter yang berbeda dari dunia nyata karena dipenuhi kepribadian palsu.
Dalam dunia imajiner tersebut, pengguna acap kali menciptakan beragam karakter palsu dengan sangat bebas. Karakter-karakter ini berinteraksi satu sama lain dengan cara yang tidak masuk akal dan ilusif.
Anehnya, dalam operasi digital ini, kita justru menganggap diri kita benar-benar ada secara nyata. Padahal, interaksi di layar gawai melalui satu klik tersebut sama sekali tidak merepresentasikan eksistensi yang sesungguhnya.
Buya Syafii
Ahmad Syafii Maarif atau yang akrab disapa Buya Syafii memiliki kerisauan yang sama terhadap operasi rezim teknologi. Beliau mempersempit konteks persoalan ini pada ranah kehidupan masyarakat Islam masa kini.
Dalam bukunya, Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman, Buya Syafii memandang keberadaan teknologi secara netral. Sebagai sebuah alat, teknologi hanya menjadi mesin mati yang tidak berbahaya jika tidak dioperasikan.
Namun, di balik kenetralannya, terdapat risiko ketiadaan keamanan ontologis yang bisa timbul kapan saja. Kelahiran teknologi oleh peradaban modern dinilai tidak menawarkan keamanan ontologis tersebut.
Ketiadaan keamanan ini dapat memicu berbagai penyalahgunaan yang mengakibatkan rubuhnya kenyataan diri manusia. Umat Islam yang hanyut dalam situasi ini berisiko menjadi konsumen yang lalai.






