Dari Industri, Gentayang Layar, yang Terasing Hingga Buya Syafii
Dalam hal ini, Buya Syafii memberikan komentar langsung dalam bukunya: “Manusia, sebagai sebuah roda gigi produksi, telah menjadi sesuatu, dan berhenti menjadi manusia.” (ASM, 48:2019)
Beliau juga mengingatkan dampak lanjutan jika umat Islam hanya berdiri sebagai konsumen yang lalai: “Dan kita, sebagai Muslim yang hanyut dalam situasi tersebut, dan hanya berdiri sebagai konsumen yang lalai atas penemuan tersebut, tidak hanya menghentikan diri kita sebagai manusia, tetapi pada gilirannya, tidak hanya berhenti menjadi manusia, tetap akan menjadi masyarakat sakit yang tak berguna pula.” (ASM, 49:2019)
Untuk mengatasi masalah tersebut, umat Islam perlu memperkuat tanggung jawab moral dengan memeriksa keberadaan teknologi secara kritis. Ilmu pengetahuan Islam harus diletakkan di atas pusat kesadaran manusia sebagai modal pengendalian teknologi.
Dengan cara demikian, keliaran teknologi akan dapat dihindari oleh masyarakat. Hal itu terjadi karena ubun-ubun manusia telah terislamkan secara wajar sesuai dengan bangunan fitri manusia itu sendiri.
Melalui kesadaran ini, kita tidak lagi sekadar menjadi konsumen teknologi yang pasif. Pengguna akan mampu melibatkan pusat kesadaran dalam memperlakukan teknologi secara layak dalam kehidupan sehari-hari.
Kecakapan diri seperti ini perlu dipersiapkan dalam menghadapi penjelmaan teknologi mutakhir saat ini. Penguasaan diri mutlak diperlukan agar manusia tidak dikendalikan oleh kecanggihan Artificial Intelligence (AI). []






