#Bebaskan PalestinaLAPSUS

Genosida Israel Belum Berhenti, Warga Gaza: Iduladha Tidak Masuk ke Tenda Kami

Perang Menghancurkan Hidup Kami

Di tenda sebelah, seorang lansia Palestina bernama Mohammed Obeid menyambut Iduladha seorang diri setelah kehilangan istri, kedua kaki, dan rumahnya di Shujayea.

Mohammed Obeid yang kini lumpuh dan sakit-sakitan hanya bisa duduk di kursi roda sambil menghabiskan waktu dengan melantunkan ayat suci Al-Qur’an.

“Dahulu saya hidup terhormat dengan rumah berlantai empat di Shujayea dan berjalan di tengah masyarakat dengan penuh percaya diri sebagai orang berkecukupan,” kenang Obeid.

Seluruh kehidupan Obeid berubah drastis setelah bom Israel membunuh istrinya dan memaksa kedua kakinya diamputasi hingga terdampar di tenda darurat.

“Iduladha hari ini sama seperti hari-hari biasa karena tidak ada yang berbeda,” kata Obeid.

“Perang ini telah menghancurkan kami sepenuhnya,” tegas Obeid.

“Dahulu saya menyembelih hewan kurban sendiri dan membagikan dagingnya kepada tetangga di Shujayea,” ungkap Obeid sambil mengusap bagian pahanya yang putus.

“Hari ini justru orang-orang yang bergantian membagikan sedekah kepada saya,” jelas Obeid.

Tidak Ada Penyembelihan Hewan Kurban

Hilangnya aktivitas penyembelihan hewan kurban di Gaza merefleksikan kehancuran total sistem filantropi yang dahulu dikelola lembaga kemanusiaan Islam.

Koordinator Proyek Kurban Yayasan Ru’ya, Karam Khaled, menyatakan bahwa aktivitas kurban di Gaza tahun ini lumpuh total akibat penutupan pintu perbatasan oleh Israel.

Karam Khaled menegaskan bahwa blokade zionis menyebabkan kelangkaan hewan ternak dan lonjakan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebelum agresi zionis, Yayasan Ru’ya rutin menyembelih antara 300 hingga 400 ekor sapi dan domba pada setiap musim paruh tahun.

Harga satu ekor domba di pasar lokal Gaza meroket tajam hingga mencapai 4.500 dolar AS sampai 6.000 dolar AS dari harga normal yang hanya 350 dolar AS.

“Melaksanakan ibadah kurban dengan cara tradisional telah menjadi hal yang mustahil secara finansial bagi lembaga maupun warga biasa,” ujar Karam Khaled.

Karam Khaled menambahkan bahwa penutupan akses perbatasan dan pembatasan transfer uang dari luar negeri semakin melumpuhkan proyek kurban dari para donatur.

Daging Beku Membanjiri Pasar

Yayasan Ru’ya terpaksa mengambil langkah darurat dengan membagikan daging beku kepada masyarakat sebagai pengganti hewan kurban hidup.

Pihak yayasan menyediakan sekitar 10 ton daging beku untuk dibagikan selama hari tasyrik demi mengobati kerinduan warga Gaza terhadap ritual ibadah kurban.

Pola konsumsi masyarakat Gaza kini beralih sepenuhnya ke daging beku karena harga hewan hidup sudah berada di luar jangkauan kemampuan finansial.

Pedagang daging di Gaza, Mohammed al-Najjar, menjelaskan bahwa sekitar 80 persen daging beku di pasar berasal dari Israel yang diimpor dari Argentina atau Uruguay.

Sebanyak 20 persen sisa pasokan daging beku didatangkan dari Mesir dalam bentuk potongan besar bersertifikat asal Brasil.

Harga satu kilogram daging domba hidup melambung hingga 300 shekel atau setara 105 dolar AS akibat hilangnya hewan ternak di pasar Gaza.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button