SEHAT

Kanker Paru Tak Hanya Incar Perokok Aktif

Akibat keterbatasan kriteria tersebut, lebih dari separuh kasus kanker paru-paru justru baru terdeteksi pada orang yang sebelumnya tidak memenuhi syarat skrining formal.

Padahal, data dari National Lung Screening Trial pada tahun 2011 menunjukkan bahwa pemeriksaan CT dosis rendah terbukti efektif menurunkan angka kematian akibat kanker hingga 20 persen.

Selain itu, dr. Yang menambahkan bahwa tindakan medis lanjutan setelah ditemukannya nodul mencurigakan pada paru-paru tidak melulu harus melalui prosedur operasi.

Kanker paru-paru juga terbukti tidak hanya mengincar orang lanjut usia, karena faktanya sekitar satu dari sepuluh pasien yang baru didiagnosis justru berusia di bawah 55 tahun.

Pada pasien berusia muda, penyakit ini sering kali terlambat disadari dan baru ditemukan saat sudah memasuki stadium lanjut karena gejalanya yang tidak khas sejak awal.

Selain batuk yang tidak kunjung sembuh, tanda-tanda lain yang patut diwaspadai meliputi sesak napas, nyeri dada, penurunan berat badan secara drastis, kelelahan kronis, hingga batuk darah.

Untuk itu, perkembangan teknologi medis terkini mulai membuka peluang deteksi dini yang jauh lebih personal dan akurat bagi setiap individu.

Direktur Cancer Early Detection and Diagnostics Program di Mass General Brigham Cancer Institute, Dr. Lecia Sequist, kini telah mengembangkan program kecerdasan buatan bernama Sybil untuk memperkirakan risiko kanker melalui pembacaan CT scan.

“Gagasan utama deteksi dini adalah menemukan kanker saat ukurannya masih kecil,” kata dr. Sequist.

Ia menilai bahwa sistem skrining kesehatan modern seharusnya tidak lagi terpaku atau hanya dikaitkan secara sepihak dengan riwayat merokok pasien semata.

“Kita bisa lebih cerdas jika sistem tidak terlalu erat dikaitkan dengan kebiasaan merokok,” ujarnya menegaskan perlunya perluasan akses deteksi.[]

sumber: Kompas.com

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button