SUARA PEMBACA

Krisis Relevansi Kampus: Gagalnya Sistem Pendidikan Sekuler

Kebijakan yang diambil merupakan reaksi dan respons terhadap berbagai macam kepentingan yang saling bersaing, sehingga negara terlihat abai terhadap kebutuhan umat. Padahal, kebutuhan umat Islam terhadap pakar sains dan teknologi bukanlah hal baru.

Hal ini berlandaskan pada kebijakan strategis Rasulullah saw. sebagaimana tercatat dalam sejarah, di mana beliau mengutus Urwah bin Mas’ud dan Ghilan bin Salamah ra. ke Jurasy untuk mempelajari cara membuat dababah dan manjanik.

Peristiwa ini menjadi bukti kuat bahwa penguasaan teknologi tingkat tinggi adalah bagian dari sunnah kepemimpinan Nabi dalam menjaga kemaslahatan dan kedaulatan umat.

Paradoks pengangguran terlihat pada pernyataan Brian Yuliarto yang mencanangkan target tahun 2026, di mana lebih dari 60% lulusan pendidikan tinggi diharapkan langsung terserap oleh industri dalam setahun pasca kelulusan.

Hal ini justru mengonfirmasi bahwa pendidikan tinggi telah kehilangan visinya karena sistem saat ini memaksakan lapangan kerja diciptakan hanya untuk memaksimalkan keuntungan pemilik modal.

Data pengangguran Gen Z yang mencapai 16% hingga 16,89% membuktikan bahwa orientasi pendidikan sekarang hanyalah sebagai pemasok tenaga kerja.

Ketika roda industri melambat, para lulusan pun terhempas karena tidak dibekali kemandirian ideologis untuk mengubah tatanan sistem.

Dalam sistem Islam, negara sebagai pengurus (raa’in) bertanggung jawab penuh atas visi, kurikulum, hingga pembiayaan pendidikan.

Negara yang akan memetakan kebutuhan ahli berdasarkan kebutuhan nyata untuk melayani rakyat secara berdaulat.

Islam menyelesaikan pengangguran melalui pengelolaan sumber daya alam yang merupakan milik umum oleh negara serta melalui larangan riba. Mekanisme ini akan membuka sektor industri riil yang luas sehingga kebutuhan terhadap tenaga ahli justru akan sangat besar.

Pendidikan tidak lagi mencetak lulusan massal tanpa arah, melainkan mencetak para ahli yang memiliki medan pengabdian yang nyata. Krisis relevansi program studi hari ini adalah bukti gagalnya sistem pendidikan sekuler.

Selama standar mutu kita masih mengekor pada kepentingan pasar global, kita hanya akan terus memproduksi buruh berpeci yang bertumpu pada struktural namun tumpul terhadap problem umat.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button