Mengapa Pemimpin yang Tak Peduli Agama Dipuji di Negeri Ini?
Media massa mainstream juga begitu. Mereka cenderung mendukung calon yang dapat mengguyur duit ke media mereka. Jarang media massa yang mempunyai ideologi, apalagi mendukung calon yang direkomendasikan tokoh-tokoh Islam.
Pemilu presiden 2024 lalu sebenarnya fenomenal. Anies Baswedan yang didukung tokoh-tokoh Islam, meski tidak didukung para konglomerat, berhasil mendapat suara yang signifikan. Dengan dukungan dana swadaya dari masyarakat dan media sosial, Anies menjadi calon presiden yang mendapat sambutan gegap gempita tiap berkunjung ke daerah-daerah.
Tapi Anies kalah dana. Anies kalah dukungan pemerintah. Pemerintah Jokowi saat itu mendukung Prabowo habis-habisan dengan pengerahan triliunan bansos dan pengerahan aparat sipil-militer. Selain itu para konglomerat juga mendukung Prabowo habis-habisan. Tanpa bantuan pemerintah Jokowi, diduga kuat Anies akan memenangkan pilpres 2024 lalu.
Tahun 2029 nanti, gaya Prabowo memenangkan pilpres 2024 lalu tidak boleh terulang. Bansos harus diawasi ketat oleh KPK dan masyarakat agar tidak diselewengkan untuk mendukung capres tertentu. Aparat negara sipil-militer tidak boleh dikerahkan juga untuk mendukung mereka.
Di sisi lain tokoh-tokoh Islam harus bersinergi erat dengan masyarakat untuk memainkan opini, merancang strategi,dan kerjasama lembaga survei untuk mengegolkan calonnya. Bila tidak, maka yang terpilih calon yang tidak memperdulikan agama kembali.
Sebuah ironi, penduduk yang jumlah umat Islamnya terbesar di dunia dipimpin presiden yang tidak peduli agama (sekuler). Dan pemimpin yang sekuler, tidak akan membuat Indonesia hebat serta adil makmur. Wallahu azizun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






