Mengapa Pemimpin yang Tak Peduli Agama Dipuji di Negeri Ini?
Dalam ilmu politik, ada fenomena yang disebut bandwagon effect, yaitu kecenderungan publik untuk mendukung calon yang terlihat populer atau unggul dalam survei. Ketika lembaga survei mempublikasikan hasil yang menunjukkan satu nama unggul, maka orang lain cenderung “ikut arus”, berpikir “kalau banyak yang memilih dia, mungkin saya juga harus mempertimbangkannya”. Ini bukan sekadar teori; survei yang berulang dan konsisten dapat menunjukkan tren yang semakin menguat, yang kemudian mempercepat akumulasi suara bagi kandidat tertentu.
Contoh konkret dari tren ini ialah survei yang menunjukkan meningkatnya dukungan terhadap pasangan tertentu menjelang pemilu, seperti tren elektabilitas Prabowo–Gibran pada pilpres 2024 yang meningkat tajam dalam survei beberapa lembaga seperti LSI atau Poltracking — tren yang kemudian dipublikasikan luas dan berefek pada persepsi momentum kemenangan bagi kubu mereka.
Cara media massa menyajikan hasil survei juga berperan penting. Media sering memuat hasil survei sebagai headline atau grafik besar yang menunjukkan siapa “paling tinggi”. Format penyajian seperti ini — angka besar, tren naik atau turun, dan peringkat — mudah ditangkap publik meskipun mereka tidak memahami detail metodologi survei.
Misalnya, ketika sebuah survei Indikator Politik menanyakan “siapa yang paling didukung Presiden Jokowi di antara nama-nama capres”, hasilnya adalah 61,2% responden percaya Jokowi mendukung Prabowo (2024). Angka besar semacam ini, sekalipun hanya soal persepsi dukungan, langsung dipublikasikan luas dan memengaruhi pembaca untuk menilai bahwa Prabowo punya endorsement kuat dari Jokowi — meskipun detail sebenarnya tentang apa yang dimaksud dengan dukungan itu bisa jauh lebih kompleks.
Partai politik dan tim kampanye memperhatikan survei bukan hanya untuk publik, tetapi sebagai indikator strategi internal. Elektabilitas yang tinggi di survei bisa memicu dukungan koalisi, investasi kampanye, dan endorsement dari tokoh besar. Ini kemudian memperkuat posisi kandidat dalam game politik. Misalnya, skor elektabilitas yang tinggi untuk Jokowi dalam survei 2018/2019 oleh berbagai lembaga seperti LSI, Indo Barometer, Kompas dan lainnya membuat koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin semakin solid dan mengoptimalkan sumber daya mereka berdasarkan momentum tersebut.
Survei juga berperan dalam produksi konten media sosial. Angka-angka survei yang positif sering diolah menjadi meme, infografik, dan viral konten yang tersebar luas. Ini memperkuat narasi elektabilitas secara visual dan emosional. Pendukung calon yang unggul kemudian mengamplifikasi angka tersebut, sementara rival sering memobilisasi kritik terhadap metodologi survei.
Contoh nyata adalah ketika angka survei menunjukkan tren kenaikan elektabilitas Prabowo di pilpres 2024, yang kemudian menjadi konten viral di sejumlah platform dan memperkuat persepsi bahwa ia adalah “favorit publik”.
Meski dianggap penting, survei juga menghadapi kritik. Sebagai instrumen kuantitatif, survei dapat terbatas oleh teknik sampling, framing pertanyaan, waktu pengambilan data, atau bahkan bias sponsor survei. Kritik populer di media sosial menyatakan bahwa beberapa survei memberi hasil tidak akurat atau dimanfaatkan untuk mengunci opini publik, bukan sekadar mengukur opini.
Dalam kasus Pilpres 2019, sejumlah lembaga survei memang memprediksi pemenang dengan cukup dekat terhadap hasil akhir. Namun prediksi ini cenderung mengikuti tren yang sudah terjadi — bukan semata pembentuk tren itu sendiri. Ada pula kasus di mana suara yang belum menentukan pilihan (undecided) dalam survei pada akhirnya berpaling ke calon tertentu pada hari H.
Bagaimana strategi umat Islam?
Dalam memilih pemimpin (presiden) di Indonesia, sebenarnya tiap lima tahun hampir terjadi ijmak tokoh-tokoh Islam. Dalam pemilu 2014 dan 2019 misalnya, tokoh-tokoh Islam lebih memilih Prabowo daripada Jokowi. Dalam pemilu 2024, tokoh-tokoh Islam lebih memilih Anies Baswedan daripada Jokowi atau Ganjar Pranowo.
Tapi mengapa pilihan tokoh-tokoh Islam itu seringkali kalah dalam pemilihan presiden? Di sinilah umat Islam kalah strategi dengan umat lain. Kelompok non Islam, selain merangkul para konglomerat untuk membiayai kampanye presiden yang mencapai triliunan, mereka juga berhasil memecah belah umat Islam. Meski banyak tokoh Islam mendukung calon X, ada saja tokoh-tokoh Islam yang mendukung calon Y. Dukungan terhadap calon Y ini biasanya dibarengi dengan guyuran duit miliaran.
Sementara itu, partai-partai yang ada di tanah air cenderung pragmatis dan bergelayut mendukung calon yang didukung para konglomerat. Mereka hampir-hampir tidak punya prinsip/ideologi mendukung calon yang hebat dan dapat membuat negeri ini adil dan makmur.






