LAPSUS

Mitos Keamanan Runtuh, Jaringan Pangkalan Militer AS di Timteng Kini Tak Lagi Berkelanjutan?

Ia menjelaskan bahwa keberadaan pangkalan AS di Teluk Persia awalnya dirancang sebagai bagian dari strategi era Perang Dingin untuk melindungi kawasan kaya minyak dari Uni Soviet. Setelah peristiwa 11 September 2001, pangkalan-pangkalan itu beralih fungsi untuk mendukung operasi kontra-pemberontakan dalam “Perang Melawan Teror”.

“Apa yang kita miliki saat ini pada dasarnya adalah warisan dari keputusan-keputusan penempatan militer yang dibuat pada masa lalu,” kata McKenzie.

“Tak seorang pun yang waras akan menempatkan Markas Depan CENTCOM hanya sekitar 100 mil dari Iran. Namun, di situlah letaknya sekarang, karena ketika pangkalan itu dibangun bertahun-tahun lalu, yang kita pikirkan adalah Irak, Afghanistan, dan berbagai persoalan lain—bukan anciman Iran yang terus berkembang.”

Ia menambahkan: “Kemampuan mengantisipasi adalah inti dari kebijaksanaan. Dan tidak banyak kebijaksanaan yang tercermin ketika kita memilih lokasi Markas Depan CENTCOM itu.”

Ketika dimintai tanggapan mengenai situasi ini, seorang pejabat pertahanan Amerika Serikat memberikan pernyataan resmi kepada Newsweek.

“Kami secara rutin memantau situasi keamanan di kawasan, termasuk setiap potensi ancaman terhadap pasukan yang kami tempatkan, dan mengambil semua langkah pencegahan untuk melindungi mereka,” ujarnya.

Pejabat tersebut menambahkan: “Kami tidak membahas secara spesifik langkah-langkah perlindungan pasukan karena alasan keamanan operasional.”

Membantah “Mitos” tentang Pangkalan Militer

Meskipun rincian lengkap mengenai penempatan kekuatan militer AS di luar negeri bersifat rahasia, secara luas diakui bahwa negara tersebut memiliki pangkalan terbanyak di dunia. Berbagai perkiraan menyebutkan jumlah instalasi militer luar negeri milik AS melampaui 750 lokasi.

Pendataan publik yang paling komprehensif berasal dari David Vine, seorang antropolog yang banyak mengkaji hegemoni jaringan militer AS. Menurut perkiraannya, terdapat sekitar 89 instalasi militer AS yang tersebar di kawasan Timur Tengah secara luas.

Di antara yang paling penting adalah Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Naval Support Activity Bahrain, Camp Arifjan di Kuwait, Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab, serta Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi.

Namun, meskipun AS memiliki kekuatan militer yang jauh lebih unggul, seluruh instalasi tersebut telah menjadi sasaran langsung serangan Iran. Serangan hebat ini terjadi sejak AS dan Israel melancarkan perang bersama terhadap Republik Islam Iran pada akhir Februari.

Sebasi besar serangan tersebut dilancarkan menggunakan rudal dan drone. Salah satunya adalah serangan mematikan yang menghantam pusat operasi darurat di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait.

Selain itu, serangan pesawat tempur F-5E milik Iran terhadap Camp Buehring di Kuwait menunjukkan bahwa aset konvensional yang sudah tua pun masih bisa menjadi ancaman nyata. Risiko keamanan tersebut terus berlanjut bahkan setelah adanya pengumuman gencatan senjata pada bulan April.

Bahkan setelah Washington dan Teheran menempuh jalur diplomasi melalui penandatanganan nota kesepahaman pada 17 Juni, bentrokan balasan kembali pecah. Pada akhir pekan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menyerang delapan pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button