RESONANSI

‘Normalcy Bias’ dan Detik-Detik yang Hilang

Melawan Bias dengan Ketegasan

Normalcy Bias tidak bisa dilawan dengan data semata. Statistik kematian, grafik kenaikan air, atau peta rawan bencana sering kalah oleh satu kalimat sederhana: “Tenang saja.” Yang dibutuhkan adalah pengalaman—atau setidaknya simulasi yang terasa nyata. Latihan evakuasi, cerita korban, dan narasi personal jauh lebih efektif menembus pertahanan psikologis.

Ketegasan pemimpin juga menentukan. Instruksi yang jelas, tegas, dan tanpa ambiguitas memotong ruang tawar-menawar di kepala publik. “Evakuasi sekarang” lebih menyelamatkan daripada “siaga dan memantau perkembangan.” Dalam situasi genting, kepastian lebih penting daripada kesempurnaan informasi.

Tenang yang Harus Dicurigai

Normalcy Bias mengajarkan satu pelajaran pahit: ketenangan tidak selalu berarti aman. Dalam bencana, rasa normal sering kali adalah ilusi terakhir sebelum segalanya runtuh. Bias ini manusiawi, bahkan wajar. Namun justru karena ia begitu alami, dampaknya menjadi begitu berbahaya.

Banyak nyawa hilang bukan karena kurangnya peringatan, melainkan karena terlalu percaya pada rasa aman yang menipu. Dalam detik-detik krusial itu, keputusan kecil—untuk segera pergi, untuk tidak menunggu—menjadi pembeda antara selamat dan celaka. Barangkali, dalam menghadapi bencana, kita perlu belajar satu hal sederhana: mencurigai ketenangan kita sendiri.[]

Muhibbullah Azfa Manik

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button