INTERNASIONAL

Pengaruh Lobi Zionis Pudar, Politisi Amerika Mulai Tinggalkan AIPAC

Ben-Ami juga mengatakan bahwa meskipun serangan dari kalangan kanan terus berlanjut—bahkan Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, baru-baru ini menyebut J Street sebagai “kanker”—komunitas pemilih Yahudi Amerika semakin terbuka terhadap pesan yang dibawanya.

“Ada orang-orang yang sebelumnya berada di AIPAC atau organisasi lain yang kini mulai menyadari bahwa mereka telah keliru,” katanya. “Saya merasa semakin mudah menjelaskan pandangan kami kepada mereka,” tuturnya.

Namun jika berbicara mengenai pencapaian yang konkret, gambaran yang muncul tidak terlalu jelas.

Barangkali keberhasilan terbesar J Street adalah kesepakatan nuklir Iran, yang didukung organisasi tersebut dengan memberikan perlindungan politik kepada Presiden Barack Obama dan para pejabat pemerintahannya ketika AIPAC berusaha menggagalkan perjanjian itu. Namun, kesepakatan tersebut hanya bertahan tiga tahun sebelum Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar darinya.

Sementara itu, jumlah pemukim Yahudi di Tepi Barat hampir dua kali lipat dibandingkan ketika J Street pertama kali didirikan.

Israel telah menghancurkan Gaza, dan para pemukim Yahudi kini berharap dapat menetap di wilayah tersebut dengan dorongan dari pemerintah Israel.

“Harus ada perubahan dalam politik Israel agar politik J Street tetap dapat bertahan lebih lama.” — Jeremy Ben-Ami.

Melihat berbagai perkembangan yang sangat buruk tersebut, saya bertanya kepada Ben-Ami mengapa para pengamat tidak seharusnya menyimpulkan bahwa J Street telah gagal dalam hal-hal yang paling penting.

Ben-Ami menjawab bahwa menciptakan perdamaian di Timur Tengah tidak pernah menjadi tujuan utama J Street.

“J Street ada untuk mengubah kebijakan Amerika. Itu saja. Saya berharap, sungguh berharap, bahwa perubahan kebijakan Amerika akan berdampak terhadap apa yang terjadi di Israel. Tetapi semua yang kami lakukan harus disesuaikan dengan sasaran kami, yaitu para pembuat kebijakan Amerika,” urainya.

Ben-Ami tetap mengakui bahwa, “harus ada perubahan dalam politik Israel agar politik J Street dapat terus relevan lebih lama.” Menurutnya, “Saya kira itu adalah pesan yang belum benar-benar dipahami oleh masyarakat Israel.”

Pemilu Israel yang akan digelar akhir tahun ini mungkin dapat mengubah keadaan tersebut.

Yashar, partai baru yang didirikan oleh mantan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Gadi Eisenkot, yang mendapat dukungan dari semakin banyak kalangan moderat di Israel, dalam salah satu jajak pendapat terbaru berhasil melampaui Likud.

Namun, Ben-Ami sama sekali tidak beranggapan bahwa munculnya seorang perdana menteri baru akan langsung menghidupkan kembali prospek perdamaian.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button