Pengaruh Lobi Zionis Pudar, Politisi Amerika Mulai Tinggalkan AIPAC
“Saya pikir seorang pemimpin seperti Eisenkot, yang dihormati oleh orang-orang dari seluruh spektrum politik, memiliki sebuah peluang,” katanya. “Apakah pemimpin itu akan memanfaatkan peluang tersebut, saya tidak tahu. Tetapi yang ingin saya lihat dilakukan J Street di Amerika Serikat adalah membuka pintu menuju peluang itu,” paparnya.
Tidak lama setelah wawancara kami, mantan Kepala Staf Gedung Putih pada masa Presiden Barack Obama sekaligus tokoh yang diperkirakan akan maju dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2028, Rahm Emanuel, menyampaikan pidato yang keras namun bernada tough love di Universitas Tel Aviv.
Dalam pidatonya, Emanuel mengecam kepemimpinan Israel, menyebut negara itu telah menjadi negara paria (pariah state), menyatakan bahwa era dukungan Amerika Serikat dalam bentuk “cek kosong” (blank check) kepada Israel telah berakhir, serta menyerukan pemberian sanksi kepada individu-individu yang menganiaya rakyat Palestina maupun perusahaan dan bank yang memfasilitasi pembangunan permukiman Yahudi.
(Menariknya, ayah Emanuel, sebagaimana ayah Ben-Ami, juga pernah menjadi anggota Irgun.)
Bagi siapa pun yang meragukan apakah J Street masih relevan, menarik untuk mendengar Emanuel mempromosikan gagasan “solusi 23 negara” (23-state solution), yaitu konsep yang menggabungkan kedaulatan Palestina dengan normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab di kawasan.
Gagasan mengenai kerangka perdamaian regional yang komprehensif sebenarnya bukan hal baru; pertama kali diajukan oleh Liga Arab pada tahun 2002.
Namun, istilah “23-state solution” secara langsung dipinjam dari Jeremy Ben-Ami, yang pertama kali memperkenalkan istilah tersebut dua tahun lalu dan sejak itu secara rutin berdiskusi dengan Emanuel.
Apakah gagasan itu akan berhasil? Jawabannya belum bisa dipastikan saat ini.
Namun, Ben-Ami tetap tidak gentar menghadapi ketidakpastian tersebut. “Selama saya masih melihat ada jalan menuju ke sana, kami akan terus melakukan advokasi agar kita bergerak ke arah jalan itu,” katanya. “Daripada terus berjalan menuju jurang,” pungkasnya. []
Aaron Gell
Sumber: The Guardian






