Renungan Ramadhan: Hakikat Dunia
Ada dua kata yang sering terulang-ulang di dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw., yaitu; dunia dan akhirat. Kita sebagai manusia juga mengalami dua keadaan—yang juga sering terulang-ulang di dalam Al-Qur’an dan Hadis, yaitu: kehidupan dan kematian.
Segala sesuatu yang ada dan dekat dengan kita saat ini sebelum kematian disebut dunia. Sedangkan yang datang kemudian, yakni yang datang setelah kematian, disebut dengan akhirat.
Di dalam Al-Qur’an, ayat-ayat yang menyebutkan celaan terhadap dunia dan berbagai perumpamaannya sangatlah banyak. Bahkan sebagian besar Al-Qur’an memuat celaan terhadap dunia, mengarahkan manusia agar berpaling darinya, dan kembali menuju akhirat. Bahkan itulah tujuan para nabi dan rasul Allah; mereka tidak diutus kecuali untuk tujuan tersebut.
Di antara ayat-ayat tersebut, Allah Swt. berfirman dalam surah Gāfir ayat 39:
اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ ۖوَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.
Kata مَتَاعٌ (matā‘) dalam ayat tersebut ditafsirkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lat sebagai sesuatu yang dinikmati oleh pemiliknya hanya sesaat, kemudian terputus dan binasa. Dunia tidaklah dicela dengan sesuatu yang lebih kuat daripada penyebutan tentang kefanaannya dan perubahan-perubahan keadaannya. Hal itu merupakan dalil yang paling jelas tentang habis dan lenyapnya dunia.
Kesehatan berubah menjadi sakit, keberadaan menjadi ketiadaan, masa muda menjadi tua renta, kenikmatan menjadi kesengsaraan, dan kehidupan menjadi kematian. Ruh berpisah dari jasad, kemakmuran berubah menjadi kehancuran, dan pertemuan berubah menjadi perpisahan dengan orang-orang tercinta. Segala sesuatu yang berada di atas tanah pada akhirnya akan kembali menjadi tanah.
Dengan demikian, tidak ada di dunia ini yang bersifat langgeng dan abadi. Barang siap pakai—seperti sepatu, misalnya—sekalipun dipasarkan dan dipromosikan dengan kata-kata “bagus dan awet”, tetap tidak akan mempertahankan bentuknya jika digunakan. Sedikit demi sedikit ia akan rusak dan akhirnya dibuang. Demikianlah gambaran singkat tentang sifat kefanaan dunia.
Dikisahkan bahwa Yazid bin Abd al-Malik—yang menjadi khalifah Bani Umayyah setelah Umar bin Abd al-Aziz—memiliki seorang budak perempuan bernama Hababah. Ia sangat tergila-gila kepadanya dan tidak dapat memilikinya kecuali setelah melalui usaha yang sangat berat.
Ketika akhirnya ia mendapatkannya, pada suatu hari ia dan Hababah berduaan di sebuah taman dalam keadaan sangat gembira, hingga seakan-akan hilang akal karena bahagia. Saat ia sedang bercanda dan bergurau dengannya, ia melemparkan sebutir biji delima atau anggur kepadanya ketika Hababah sedang tertawa. Biji itu masuk ke dalam mulutnya, lalu ia tersedak dan meninggal dunia.
Jiwanya tidak rela untuk segera menguburkannya hingga tubuhnya berubah (membusuk). Ia pun ditegur karena hal tersebut, lalu akhirnya menguburkannya.
Setelah kematiannya, sang khalifah bersedih hingga jatuh sakit selama beberapa hari, sampai akhirnya ia pun meninggal dunia.






