#Ramadhan 1447 HIBRAH

Renungan Ramadhan: Hakikat Dunia

Demikianlah, gambaran betapa rapuh dan tidak pastinya kenikmatan dunia. Apa yang beberapa saat sebelumnya menghadirkan tawa dan kebahagiaan, seketika berubah menjadi tangis dan duka. Apa yang disangka akan bertahan lama, ternyata sirna dalam hitungan detik. Itulah hakikat dunia—ia tidak memberi jaminan, tidak mengenal kepastian, dan tidak pernah setia kepada siapa pun.

Sebagai penutup, renungan tentang dunia dan akhirat seharusnya melahirkan sikap hidup yang seimbang dan bijaksana.

Dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan sekadar persinggahan yang sarat ujian dan tipu daya. Ia boleh dimanfaatkan, tetapi tidak untuk dicintai secara berlebihan; ia boleh dikejar, tetapi tidak untuk dijadikan sandaran harapan yang kekal. Kesadaran bahwa kehidupan akan berakhir dengan kematian, dan bahwa akhirat adalah negeri yang abadi, semestinya menuntun hati agar tidak tertipu oleh gemerlap yang sementara.

Maka, orang yang berakal adalah mereka yang menjadikan dunia sebagai ladang amal, menanam kebaikan sebanyak-banyaknya, dan mempersiapkan bekal sebelum tiba saat kembali kepada Allah Swt.

Dengan demikian, ketika dunia meninggalkan kita—atau kita yang meninggalkannya—kita telah siap menyambut kehidupan yang sesungguhnya di negeri akhirat yang kekal dan penuh pertanggungjawaban. Wallāhu a’lam.

Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button