Sabar dan Shalat sebagai Dua Pilar ‘Mental Health’
Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, ayat ini menjelaskan bahwa nikmat terkadang datang bersama cobaan dan berbagai macam ujian. Namun, tidak ada cara yang lebih kuat untuk menghadapi cobaan dan melawan musuh selain dengan sabar dan shalat. Dalam sabar terdapat kekuatan jiwa, kemampuan menahan diri, dan keteguhan menghadapi ujian. Allah senantiasa menyertai orang-orang yang sabar dengan memberikan pertolongan, perlindungan, serta dukungan-Nya.
Setelah Allah menegaskan pentingnya bersyukur, manusia diarahkan untuk memohon pertolongan melalui sabar dan shalat. Sebab hidup seorang hamba selalu berputar pada dua keadaan: saat menerima nikmat ia perlu bersyukur, dan saat diuji ia perlu bersabar. Tidak ada keberhasilan baik dalam urusan pribadi maupun perjuangan besar yang terwujud tanpa kesabaran yang terjaga.
Sementara itu, shalat adalah inti ibadah, tempat seorang hamba bermunajat, merasakan keagungan Allah, dan memperoleh ketenangan batin. Ia menjadi pelindung bagi yang gelisah, jalan keluar bagi yang kesulitan, dan sumber damai bagi orang beriman. Allah menyebutkan sabar karena ia ujian paling berat bagi jiwa, dan menyebutkan salat karena ia amalan lahir yang paling berat bagi tubuh sebuah ibadah yang menuntut penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dan melepaskan hati dari hiruk-pikuk dunia.
Hikmah dan Pelajaran
a. Allah mengakui realitas ujian hidup, dan memberikan cara menghadapinya, bukan menyuruh manusia pura-pura kuat.
b. Sabar adalah kemampuan mental, bukan sekadar menahan diri, tetapi mengelola emosi dan berpikir jernih.
c. Shalat adalah ruang pemulihan jiwa, yang mengembalikan kestabilan pikiran dan hati.
d. Kebersamaan Allah diberikan secara khusus kepada orang yang sabar sebuah janji ketenangan yang tidak bisa digantikan motivasi manusia.
e. Ayat ini relevan bagi era modern karena memberikan solusi untuk stres, kecemasan, dan burnout yang marak terjadi.
f. Sabar dan shalat adalah dua pilar mental health yang saling melengkapi: sabar menjaga emosi, shalat menenangkan jiwa.
Penutup
Surah Al-Baqarah ayat 153 adalah ayat yang memberikan dua pilar utama kesehatan mental dalam Islam: sabar dan shalat. Penafsiran para mufassir menunjukkan bahwa sabar bukan sikap pasif, tetapi kemampuan aktif mengendalikan diri. Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi ruang pemulihan mental dan spiritual.
Ayat ini hadir di tengah pembahasan tentang ujian hidup, mempertegas bahwa manusia membutuhkan fondasi batin untuk tetap teguh. Dengan menerapkan sabar dan shalat secara benar, seorang mukmin akan memiliki ketahanan mental yang kuat, sekaligus hubungan yang lebih dekat dengan Allah SWT.[]
*Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Universitas PTIQ Jakarta.






