#Bebaskan PalestinaNUIM HIDAYAT

Ketika Hamas Terima Solusi Dua Negara dan Israel Menolaknya

Hamas kini jadi sorotan dunia. Amerika dan Israel adalah dua negara yang sangat membenci Hamas. Mereka menuduh Hamas adalah teroris. Negara-negara Eropa dan Arab pun ikut-ikutan. Indonesia pun sampai saat ini tidak mengizinkan Hamas punya kantor resmi di sini. Hanya Qatar, Malaysia, Turki dan Iran yang bersikap ramah terhadap Hamas.

Mengapa Hamas ditakuti Israel dan Amerika? Hamas, singkatan dari Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah (Gerakan Perlawanan Islam), didirikan pada 14 Desember 1987 di Gaza. Lahirnya Hamas erat kaitannya dengan meletusnya Intifada Pertama (pemberontakan rakyat Palestina) melawan pendudukan Israel.

Pendiri utama Hamas adalah Syekh Ahmad Yasin, seorang ulama karismatik yang punya hubungan erat dengan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Sebelum menjadi organisasi politik dan militer, Hamas berawal dari jaringan dakwah, pendidikan, serta kegiatan sosial yang dibangun oleh Ikhwanul Muslimin di Gaza sejak 1970-an. Melalui masjid, sekolah, dan lembaga amal, mereka menanamkan nilai Islam sekaligus menumbuhkan kesadaran perlawanan terhadap pendudukan.

Momentum lahirnya Hamas datang ketika rakyat Palestina bangkit dalam Intifada 1987. Syekh Yasin bersama tokoh lain seperti Abdul Aziz al-Rantisi, Mahmud Zahar, dan sejumlah aktivis Islam mendeklarasikan berdirinya Hamas. Mereka menegaskan bahwa perjuangan membebaskan Palestina harus berlandaskan Islam, berbeda dengan kelompok nasionalis sekuler seperti Fatah yang mendominasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Dalam piagam pendiriannya tahun 1988, Hamas menolak keberadaan Israel dan menegaskan Palestina sebagai tanah wakaf Islam yang tidak boleh diserahkan kepada pihak lain. Hamas juga memadukan perlawanan bersenjata dengan aktivitas pendidikan dan sosial: mendirikan sekolah, klinik, hingga lembaga amal yang memberi dukungan luas di kalangan rakyat.

Seiring waktu, Hamas berkembang menjadi kekuatan politik utama di Palestina. Pada 2006, mereka menang dalam pemilu legislatif yang demokratis di Palestina. Sebuah titik balik besar yang memicu konflik internal dengan Fatah. Sejak 2007, Hamas memegang kendali pemerintahan di Jalur Gaza.

Setelah Hamas menang dalam pemilu legislatif Palestina 25 Januari 2006, Amerika Serikat, Israel, dan Uni Eropa segera mengambil langkah boikot. Sat itu Hamas melalui partai politiknya, meraih 74 dari 132 kursi di Dewan Legislatif Palestina, mengalahkan Fatah yang selama ini dominan. Kemenangan ini mengejutkan banyak pihak karena Hamas dianggap bukan hanya gerakan militer, tetapi juga berhasil meraih dukungan rakyat lewat layanan sosial, pendidikan, reputasi antikorupsi, dan sikap tegas terhadap Israel.

Saat itu Israel blingsatan. Ia menolak berhubungan dengan pemerintahan yang dipimpin Hamas. Amerika Serikat dan Uni Eropa juga menghentikan bantuan langsung kepada Otoritas Palestina. Mereka menuntut Hamas untuk: mengakui keberadaan Israel, meninggalkan perlawanan bersenjata dan menghormati perjanjian dan telah ditandatangani PLO sebelumnya. Hamas menolak syarat itu karena dianggap bertentangan dengan prinsip perjuangan mereka.

Akibat boikot dari Israel, Amerika dan Uni Eropa ini maka Kesulitan keuangan besar melanda pemerintahan Palestina, karena sekitar setengah anggarannya bergantung pada bantuan luar negeri. Israel menahan pajak dan bea cukai yang seharusnya disalurkan ke Otoritas Palestina.

Tekanan internasional itu akhirnya memperdalam konflik internal antara Hamas dan Fatah, yang akhirnya meletus menjadi bentrokan bersenjata pada 2007. Pada Juni 2007, Hamas akhirnya mengambil alih Jalur Gaza setelah konflik berdarah dengan Fatah. Sejak itu, Palestina terbelah dua: Hamas menguasai Gaza, sementara Fatah memerintah di Tepi Barat.

Pada saat itu Hamas terus ditekan oleh Amerika dan Israel. Sehingga akhirnya terbentuk Kelompok Quartet (30 Januari 2006), yang menetapkan bahwa bantuan kepada pemerintah Palestina mendatang dengan tiga syarat: non-violence (tidak menggunakan kekerasan), recognition of Israel (mengakui negara Israel) dan acceptance of prior agreements and obligations (menghormati kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya).

Mengapa Hamas menggunakan kekerasan bersenjata melawan Israel? Karena Israel sendiri yang memulai. Sejak 1948, ribuan orang Palestina dibunuh dan ratusan ribu warga Palestina terusir dari tanah mereka (Nakba). Pendudukan Israel setelah 1967 (Perang Enam Hari) memperburuk situasi: pemukiman ilegal, penyitaan tanah, blokade, dan pembatasan gerak rakyat Palestina. Hamas berargumen bahwa karena diplomasi dan perundingan tidak membuahkan hasil adil, maka “perlawanan bersenjata” adalah jalan terakhir.

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button