Kanker Paru Tak Hanya Incar Perokok Aktif

Jakarta (SI Online) – Kanker paru-paru masih sering disalahartikan hanya menyerang perokok berat, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks dan mengancam siapa saja tanpa pandang bulu.
Sejumlah mitos yang berkembang di masyarakat membuat banyak orang tidak menyadari risiko tersebut, sehingga mereka akhirnya terlambat menjalani pemeriksaan medis yang sangat krusial bagi keselamatan jiwa.
Padahal, penyakit mematikan ini dapat lebih mudah ditangani dan disembuhkan jika ditemukan sejak dini melalui langkah skrining yang tepat.
Salah satu mitos paling menyesatkan adalah anggapan bahwa kanker paru-paru hanya dialami oleh para perokok aktif.
Kenyataannya, sebanyak seperempat kasus kanker paru-paru justru muncul pada orang yang tidak pernah merokok atau hanya merokok kurang dari seratus batang sepanjang hidup mereka.
Selain itu, penyakit ini juga dilaporkan lebih sering menyerang kaum perempuan dibandingkan laki-laki, terutama pada perempuan dengan garis keturunan Asia Timur atau Asia Selatan.
Mitos lain yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa hanya perokok dengan intensitas tinggi saja yang perlu mencemaskan ancaman kanker ini.
Dokter bedah toraks di Mass General Brigham Cancer Institute, Dr. Chi-Fu Jeffrey Yang, menegaskan bahwa risiko kanker paru-paru tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak jumlah rokok yang diisap seseorang.
“Saya pikir ini lebih tentang berapa tahun seseorang merokok, bukan hanya seberapa intens kebiasaan merokoknya,” kata dr. Yang.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa risiko kerusakan organ pernapasan ini juga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti polusi udara, paparan gas radon, faktor genetik, serta riwayat merokok di masa lalu.
Pemeriksaan kanker paru-paru sendiri umumnya dilakukan dengan menggunakan teknologi pemindaian low-dose CT atau CT dosis rendah.
Kepala bedah toraks University of Chicago, Dr. Jessica Donington, menilai bahwa kriteria skrining yang berlaku saat ini masih terlalu sempit bagi masyarakat umum.
Ads: Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Poltek Kesehatan kunjungi poltekkeskotagedongtataan.org
“Kriterianya terlalu sempit,” kata dr. Donington saat mengkritisi pedoman resmi yang hanya berfokus pada kelompok risiko tertentu.






