#Bebaskan PalestinaLAPSUS

Genosida Israel Belum Berhenti, Warga Gaza: Iduladha Tidak Masuk ke Tenda Kami

Gaza, Palestina (Suaraislam.id) – Pembantaian massal yang terus dilancarkan penjajah Israel di Jalur Gaza telah menghancurkan seluruh tradisi perayaan Iduladha dan menyisakan duka mendalam bagi warga Palestina.

Penjajah Israel menggelar genosida di Gaza hingga menewaskan hampir 73.000 warga Palestina berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Gaza.

Pada Iduladha tahun-tahun lalu, keluarga Baroud biasa memulai fajar dengan penuh sukacita mengelilingi kamp pengungsian Shati di Kota Gaza untuk bersilaturahmi dan membagikan daging kurban.

Ritual wajib keluarga Baroud yang selalu mengambil foto bersama setiap akhir perayaan Iduladha untuk dikirim ke kerabat di luar negeri kini tinggal kenangan.

Walaa Baroud pada Rabu (27/05/2026) meratapi selembar foto keluarga terakhir sebagai satu-satunya memori yang tersisa di tengah kecamuk genosida Israel.

Sebanyak 13 orang dari 22 anggota keluarga yang ada di dalam foto tersebut telah syahid akibat serangan udara beruntun militer Israel yang menewaskan total 80 anggota keluarga besar mereka.

Sisa keluarga yang bertahan hidup kini berkumpul bukan untuk bersukacita, melainkan untuk meratapi syahidnya saudara mereka yang bernama Baha Baroud.

Baha Baroud gugur beberapa hari lalu akibat bom Israel, sehingga keluarga memulai Iduladha tahun ini di tenda duka dan rumah sakit tempat jenazahnya disemayamkan.

“Perang tidak berhenti merenggut orang-orang yang kami cintai, dan kami tidak pernah menyangka harus membuka tenda duka di tengah masa gencatan senjata,” ujar Walaa kepada Al Jazeera, Rabu (27/05/2026).

“Kami terjebak di antara dua masa dan tenggelam dalam kenangan yang sangat menyakitkan,” lanjut Walaa.

Penderitaan dan Kehilangan yang Berlipat Ganda

Seorang janda tua bernama Hajja Shama al-Zorbatli terpaksa merayakan Hari Raya di dalam tenda kain kumuh di atas trotoar jalanan Gaza.

Hajja Shama telah kehilangan suami sekaligus rumahnya akibat kebiadaban militer Israel.

“Iduladha tidak masuk ke tenda-tenda pengungsian,” kata Hajja Shama kepada Al Jazeera, Rabu (27/05/2026).

Tenda pengungsian itu sama sekali tidak memiliki aliran listrik, telepon, televisi, maupun jaringan internet.

Tangis Hajja Shama pecah saat melihat potongan video para jemaah haji yang sedang beribadah di Kota Suci Mekah.

“Saya belum pernah ke Baitullah dan impian terbesar saya adalah menunaikan ibadah haji,” ucap Hajja Shama.

“Namun haji macam apa yang bisa dipikirkan ketika saya bahkan tidak bisa menemukan makanan untuk dimakan?” lirih Hajja Shama.

Nenek berusia 70 tahun itu mengenang indahnya masa lalu di lingkungan Shujayea saat membeli baju baru untuk cucu dan membuat kue Iduladha.

Hajja Shama menyebut perayaan kali ini sebagai Iduladha para syuhada yang berlalu tanpa kegembiraan akibat kehilangan yang berlipat ganda.

“Saya tidak punya pakaian lain kecuali gaun usang ini, sehingga saya harus mencuci yang satu lalu memakai yang satunya lagi secara bergantian,” ungkap Hajja Shama sambil menunjukkan sepatunya yang rusak.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button