QUR'AN-HADITS

Inilah Lima Akhlak Muslim terhadap Al-Qur’an

Oleh: Desti Ritdamaya, Praktisi Pendidikan.

Benarkah klaim para orientalis bahwa Al-Qur’an bukan firman Allah SWT atau hasil salin tempel (copy paste) dari kitab suci agama lain? Untuk menjawabnya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu realitas terkait Al-Qur’an yang tidak dapat dihindari oleh satu orang pun.

Realitas tersebut adalah Al-Qur’an berbahasa Arab dan dibawa oleh Rasulullah Saw. Selain itu, saat diturunkan sekitar 1450-an tahun lalu, kondisi transportasi dan komunikasi di dunia masih sangat sederhana serta terbatas.

Peralatan yang paling canggih saat itu hanyalah unta atau kuda sebagai sarana transportasi, serta pena untuk menulis. Sementara itu, puncak keemasan syair Arab justru terjadi tepat pada masa Al-Qur’an diturunkan, di mana para pakar syair secara masif unjuk kemampuan.

Walaupun demikian, tidak satu pun dari mereka yang mampu memenuhi tantangan Al-Qur’an untuk membuat satu surah atau ayat yang semisalnya. Tantangan terbuka ini termaktub secara jelas dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 13–14, Surah Yunus ayat 38, dan Surah Al-Baqarah ayat 23.

Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukanlah buatan pakar syair Arab, apalagi orang Arab awam yang tidak mengerti sastra. Al-Qur’an juga jelas bukan buatan Rasulullah Saw. karena terdapat perbedaan gaya bahasa yang sangat jauh antara ayat Al-Qur’an dan hadis.

Selain itu, sejarah mencatat bahwa Rasulullah Saw. adalah seorang yang ummi, yaitu tidak pandai membaca dan menulis. Bukti autentik akan semakin terlihat jika kita menilik lebih mendalam isi kandungan Al-Qur’an yang begitu memukau.

Al-Qur’an mampu mengungkap berbagai fenomena alam dan sosial yang baru bisa dibuktikan kebenarannya oleh kemajuan sains serta teknologi modern hari ini. Jadi, secara qath’i (pasti), Al-Qur’an dapat dibuktikan secara rasional sebagai kalamullah (firman Allah SWT).

Bagi seorang Muslim, apakah hanya cukup mengimani Al-Qur’an sebagai kalamullah? Tentu saja tidak, karena terdapat akhlak-akhlak mulia yang harus dilakukan seorang Muslim terhadap Al-Qur’an sebagai bentuk kecintaan kepada Allah SWT.

1. Membaca Al-Qur’an

Bagi orang yang bertakwa, merupakan suatu kehormatan dan kemuliaan besar bagi lisannya karena dapat melantunkan kalam Pemilik Alam Semesta. Ayat-ayat-Nya selalu berfungsi mencerdaskan akal sekaligus menggetarkan jiwa setiap pembacanya.

Membaca kitab ini tidak akan pernah menimbulkan rasa bosan karena adanya kesadaran bahwa kalamullah adalah petunjuk serta pelajaran berharga dari Allah SWT. Lisan yang melantunkan ayat-ayat cinta-Nya juga akan memperoleh limpahan keutamaan yang bertaburan.

Oleh karena itu, membaca kalamullah bukan lagi sekadar rutinitas harian, melainkan sudah menjadi kebutuhan bahkan kenikmatan hidup. Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an) maka baginya satu pahala kebaikan, dan satu pahala kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an karena ia akan memberikan syafaat kepada para sahabatnya pada hari kiamat.” (HR Muslim).

الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia dan berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim).

1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button