INTERNASIONAL

Pengaruh Lobi Zionis Pudar, Politisi Amerika Mulai Tinggalkan AIPAC

Jakarta (Suaraislam.id)-Politisi Zionis liberal J Street mulai diterima oleh kalangan elite Partai Demokrat, tetapi para pemilih tampaknya telah bergerak ke arah yang berbeda.

Ketika Daniel Biss berpidato di hadapan para pendukungnya setelah memenangkan nominasi Partai Demokrat di daerah pemilihan Kongres Illinois ke-9 pada Maret lalu, ia melakukan sesuatu yang jarang dilakukan para politisi. Ia memberikan penghormatan khusus kepada sebuah kelompok lobi.

“Kemenangan ini adalah milik J Street,” kata Biss di hadapan para pendukungnya.

Yang dimaksud adalah organisasi advokasi “pro-Israel, pro-perdamaian, pro-demokrasi”, pesaing lama AIPAC, kelompok lobi yang sangat berpengaruh di Capitol Hill.

Walaupun kedua organisasi sama-sama mendukung keberadaan tanah air bagi bangsa Yahudi di negara Israel dan mendukung bantuan keamanan Amerika Serikat kepada Israel, J Street juga mendukung pembentukan negara Palestina serta menentang pendudukan Israel atas Tepi Barat dan Gaza.

Biss, yang menghadapi persaingan sengit dari jurnalis progresif anti-Zionis Kat Abughazaleh dan senator negara bagian Laura Fine yang secara terbuka pro-Israel, memilih mengusung jalan tengah ala J Street dan akhirnya keluar sebagai pemenang.

Dalam beberapa hal, ini tampaknya merupakan momen yang memang diciptakan bagi J Street.

Para pemimpin senior organisasi itu mengatakan bahwa jumlah staf mereka telah bertambah 50 persen dalam lima tahun terakhir.

Anggaran organisasi maupun jumlah donor perorangan—banyak di antaranya mantan pendukung AIPAC yang merasa kecewa—telah berlipat ganda.

Menurut Wakil Presiden Bidang Strategi Politik dan Digital J Street, Tali deGroot, komite aksi politik (PAC) J Street berhasil mengumpulkan dana sebesar US$1,3 juta pada bulan Juni, jumlah terbesar dalam sejarah penggalangan dana bulanan mereka.

Organisasi itu memperkirakan akan membelanjakan sedikitnya US$13 juta pada siklus pemilu kali ini, naik dari US$9 juta pada tahun 2022.

Jumlah tersebut tentu masih sangat jauh dibandingkan ratusan juta dolar yang akan digelontorkan AIPAC ke berbagai pemilihan tahun ini.

Namun, sementara AIPAC—yang didirikan pada tahun 1954—kerap menyamarkan sumbangan politik melalui kelompok-kelompok depan (front groups) yang namanya terdengar biasa saja, sebuah strategi yang sering kali justru menjadi bumerang ketika terungkap dan bahkan dapat memperkuat stereotip antisemit tentang adanya kelompok rahasia yang mengendalikan politik Amerika Serikat, J Street, menurut deGroot, “sangat berkomitmen pada transparansi.”

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button