OPINI

Generasi Muda India Patahkan Otoritarianisme Modi

Di Jantar Mantar, satire dan perlawanan menembus aura kekebalan sang perdana menteri.

Oleh: Apoorvanand (Pengajar bahasa Hindi di Universitas Delhi. Ia menulis kritik sastra dan budaya.)

Pemberontakan pemuda di India baru-baru ini mungkin tampak mereda setelah memaksa Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, untuk mengundurkan diri. Namun, sang menteri sebenarnya tidak pernah menjadi target utama dari perlawanan bersejarah kaum muda ini.

Slogan, poster, seni digital yang penuh sindiran, dan kemarahan kolektif para pemuda hanya ditujukan kepada satu orang. Sosok tersebut adalah Narendra Modi.

Terdapat prasangka yang meluas di kalangan kaum intelektual bahwa pemuda India saat ini acuh tak acuh secara politik. Mereka dianggap sangat konsumtif dan tidak peduli dengan politik atau terkikisnya norma-norma demokrasi.

Peristiwa di Jantar Mantar telah menelanjangi kedangkalan asumsi tersebut. Para pemuda tidak memiliki ilusi tentang sifat asli rezim ini.

Mereka memahami dengan sangat jelas bahwa dalam tatanan konstitusional saat ini, tidak ada menteri yang memiliki wewenang independen. Negara India saat ini telah direduksi menjadi satu wajah dan satu pusat otoritas yang tidak kenal kompromi, yaitu Narendra Modi.

Oleh karena itu, menuntut pengunduran diri seorang menteri bukanlah sekadar permohonan administratif. Tuntutan ini adalah tindakan yang disengaja untuk memaksa sang pemimpin tertinggi itu sendiri agar mengalah.

Saat berjalan melewati Jantar Mantar, lokasi protes di pusat Delhi yang diduduki ribuan pemuda selama berminggu-minggu, seseorang tidak akan bisa menghindari kebenaran ini. Apa yang dicapai oleh anak-anak muda ini tidak lain adalah ikonoklasme di zaman kita.

Mereka secara sistematis menghancurkan persona publik yang mitis dan dikurasi dengan hati-hati. Padahal, rezim ini telah menghabiskan waktu satu dekade untuk membangun citra tersebut sebagai satu-satunya wajah bangsa.

Hal yang paling luar biasa dari pemberontakan ini adalah desentralisasi radikalnya. Tidak ada spanduk beranggaran besar yang dicetak secara profesional.

Tidak ada organisasi pelopor yang mendikte bahasa visual protes atau membagikan slogan seragam demi kepentingan kamera televisi. Potongan kardus, kertas bekas, dan spidol murah sudah cukup bagi mereka.

Setiap poster membawa jejak otentik dan tegas dari agensi moral masing-masing individu. Namun, di balik keragaman yang luar biasa ini, terdapat kesatuan tema yang tak tergoyahkan.

Semuanya berpusat pada Modi. Sang perdana menteri diejek, dibuat karikaturnya, dan secara sistematis ditelanjangi dari aura sakral yang telah dibangun di sekitarnya selama lebih dari 10 tahun.

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button