INTERNASIONAL

Begini Freelancer Gaza Bertahan Hidup Lewat Ekonomi Digital

Yerusalem (Suaraislam.id)—Di tengah kehancuran akibat perang dan tingkat pengangguran yang meroket di Gaza, semakin banyak warga lokal yang beralih ke sektor ekonomi digital untuk bertahan hidup. Bagi mereka, pekerjaan daring (online) untuk klien mancanegara menjadi salah satu dari sedikit peluang tersisa guna menafkahi keluarga.

Insinyur perangkat lunak asal Palestina, Walaa Volidis (24), menjadi salah satu dari ribuan pemuda Gaza yang memilih bertahan dan memperjuangkan impiannya.

“Saya seperti terpuruk, tenggelam dalam ketidakpastian,” kata Walaa Volidis dari sebuah ruang kerja bersama (co-working space) di Deir al-Balah, pertengahan Gaza, Kamis (7/8/2026).

“Namun jauh di lubuk hati, saya membuat keputusan: ini tidak akan menjadi akhir, seberat apa pun situasinya. Saya akan terus memperjuangkan impian saya.”

Sambil mengenakan headset dan menatap layar laptopnya, Walaa secara rutin mengikuti diskusi mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence) bersama mentornya di Silicon Valley, California. Ia bertekad menjaga keterampilannya tetap relevan meski harus tinggal di dalam tenda pengungsian bersama kedua orang tua dan empat adiknya.

“Ketika perang dimulai, saya kehilangan segalanya: pekerjaan, universitas, bahkan beberapa anggota keluarga saya. Saudara-saudara perempuan saya juga terluka,” ujar Walaa.

Kondisi kesehatan mentalnya sempat guncang, tetapi ia bangkit dan memprioritaskan pencarian kerja demi menyambung hidup keluarga. “Ini seperti memberi saya dorongan untuk terus bergerak,” katanya.

“Setiap hari saya memiliki tujuan yang jelas: pergi bekerja dan menyelesaikan tugas-tugas saya. Jika Anda hanya berhenti dan meratapi keadaan, Anda tidak akan bisa melakukan apa pun.”

Di tengah runtuhan bangunan Gaza, mayoritas dari dua juta penduduknya kini memosisikan diri bergantung pada bantuan kemanusiaan. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat angka pengangguran di wilayah tersebut telah melampaui 80 persen.

“Kami kini menyebutnya semacam penyambung hidup digital,” kata Nicole Hark dari organisasi kemanusiaan asal Amerika Serikat, Mercy Corps.

“Gagasannya sederhana: jika Anda memiliki laptop dan koneksi internet yang berfungsi, Anda masih bisa bekerja dan memperoleh penghasilan. Hal ini sangat penting untuk membantu orang kembali bekerja. Mereka tidak ingin terus bergantung pada bantuan kemanusiaan.”

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button