DAERAH

Jejak M Natsir yang Menghidupkan Raker DDII Kota Bogor

Bogor (Suaraislam.id) — Di tengah padatnya pembahasan program kerja Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Kota Bogor periode 2026–2031, suasana Rapat Kerja di Gedung Sri Baduga, Balai Kota Bogor, Ahad (20/9/2026), mendadak berubah menjadi ruang refleksi sejarah. Bukan sekadar menyusun agenda lima tahun ke depan, para pengurus diajak menengok kembali sosok yang meletakkan fondasi gerakan dakwah modern Indonesia: Buya Mohammad Natsir.

Melalui pemaparan bertajuk Jejak Rekam Mohammad Natsir, Ketua Bidang Dakwah dan Pendidikan DDII Kota Bogor, Anto Apriyanto, menyajikan hasil riset biografi yang disusunnya secara kronologis, tahun demi tahun, sejak kelahiran hingga wafatnya tokoh pendiri DDII tersebut.

“Jejak rekam Mohammad Natsir ini saya susun setelah melakukan riset, pengumpulan data, dan dokumentasi yang membahas secara detail perjalanan hidup beliau sejak lahir hingga wafat,” ujar Anto di hadapan peserta raker.

Bagi DDII, mengenang Natsir bukan sekadar mengingat seorang tokoh nasional. Ia adalah pengingat bahwa dakwah, pendidikan, intelektualitas, dan pengabdian kepada bangsa dapat berjalan dalam satu tarikan napas.

Dari Alahan Panjang Menuju Panggung Peradaban

Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, pada 17 Juli 1908. Sejak usia remaja, benih kepemimpinannya telah tumbuh.

Saat masih menempuh pendidikan MULO di Padang, setingkat SMP, ia aktif di organisasi kepanduan Islam Natipij (Nationale Islamietische Padvinderij) yang dibina Jong Islamieten Bond (JIB). Pada masa itu, JIB menjadi satu-satunya organisasi pemuda Islam yang berhasil menyatukan pelajar lintas suku dan daerah di Hindia Belanda.

Kepemimpinannya semakin menonjol ketika duduk di bangku AMS Bandung. Pada usia yang masih sangat muda, Natsir dipercaya menjadi Ketua Umum JIB Cabang Bandung periode 1928–1932.

Di organisasi itulah ia bertemu dengan sesama aktivis JIB, Nurnahar, yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Keduanya menikah pada 20 Oktober 1934.

Ketika Pena Menjadi Senjata Dakwah

Sebelum lulus AMS pada 1929, Natsir telah melakukan sesuatu yang jarang dilakukan pelajar seusianya. Ia menulis dua karya berbahasa Belanda, Qur’an en Evangelie (Al-Qur’an dan Injil) serta Muhammad als Profeet (Muhammad sebagai Nabi), yang dimuat di harian Algemeen Indische Dagblad.

Anto menyebut fase ini sebagai awal lahirnya konsep dakwah bil kitabah—berdakwah melalui tulisan.

Kemampuan menulis itu membawanya mendirikan sekaligus menjadi pemimpin redaksi surat kabar Pembela Islam, media yang kemudian dibredel pemerintah kolonial Belanda pada 1935.

Dekade 1930-an menjadi masa ketika Natsir muda aktif berdebat secara ilmiah melalui Majalah Pandji Islam. Menurut Anto, perdebatan tersebut sesungguhnya merupakan pertarungan gagasan antara ideologi sekuler yang banyak diwakili Soekarno dengan pemikiran Islam yang diperjuangkan Natsir. “Beliau menunjukkan bahwa pena bisa menjadi instrumen dakwah yang sangat kuat,” tutur Anto.

1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button