RESONANSI

Ego yang Membunuh Dakwah

Ada satu hal yang jarang dibicarakan, tapi sering terjadi: orang yang sudah punya panggung, biasanya susah berbagi panggung. Kalau dalam bahasa anak muda sekarang: sudah enak jadi “center of attention”, tiba-tiba ada orang baru yang mencuri spotlight. Rasanya gatal.

Dalam psikologi, hal ini disebut fear of replacement—takut digantikan. Itu insting dasar manusia. Seorang manajer merasa terancam oleh staf mudanya. Seorang artis senior merasa tersaingi oleh pendatang baru. Bahkan ustaz pun bisa begitu: merasa jamaahnya mulai condong ke penceramah muda yang gaya bahasanya lebih kekinian.

Saya pernah dengar cerita, ada seorang ustaz senior di sebuah kota. Sudah belasan tahun jadi pengisi tetap di masjid besar. Jamaahnya setia. Tapi kemudian datang ustaz muda. Lulusan luar negeri. Bahasanya ringan, diselingi humor. Jamaah ramai. Anak muda betah. Apa reaksi ustaz senior? Bukannya gembira, justru agak “panas dingin”. Ada yang bilang beliau sempat menegur panitia: “Kenapa tidak minta izin dulu sebelum mengundang penceramah lain?”

Padahal kalau dipikir, itu kan justru bagus. Dakwah jadi berwarna. Jamaah tidak bosan. Tapi begitulah, panggung itu terasa sempit ketika hati kita sempit.

Mari bandingkan dengan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak pernah takut tersaingi. Muadz bin Jabal masih muda ketika diutus ke Yaman untuk jadi mufti. Usamah bin Zaid bahkan baru 18 tahun ketika memimpin pasukan yang di dalamnya ada sahabat-sahabat senior.

Apa beliau khawatir reputasinya kalah? Tidak. Karena panggung itu bukan untuk memamerkan diri. Itu amanah. Dalam Islam, justru pahala besar didapat ketika kita mempersilakan orang lain naik panggung. Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»

“Barang siapa menunjukkan jalan kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Imam al-Ghazali pernah berpesan:

«لَا تَبْتَغِ ذَهَابَ غَيْرِكَ لِتَظْهَرَ أَنْتَ، فَإِنَّ نُورًا لَا يُطْفِئُ نُورًا»

“Jangan engkau mencari hilangnya orang lain agar engkau terlihat. Karena satu cahaya tidak memadamkan cahaya yang lain.”

Di sisi lain, tidak adanya semangat berbagi panggung membawa bahaya yang serius. Pertama, dakwah akan kehilangan vitalitasnya. Jika hanya ditopang satu orang, ketika tokoh itu wafat atau tidak lagi mampu bergerak, maka dakwah pun mati bersama dirinya.

Kedua, regenerasi akan macet. Tidak ada kader yang siap melanjutkan perjuangan, karena mereka tidak pernah diberi kesempatan belajar mengemban amanah. Ini ibarat pohon yang tidak pernah ditanam kembali: sesaat rimbun, tapi pada akhirnya akan lapuk dan roboh.

1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button