Al-Quds Milik Islam, Ini Buktinya!
Mereka bahkan menodai kesucian situs-situs Islam dengan mengalihfungsikannya sebagai kandang-kandang kuda mereka. Tentu sistem yang kejam ini sangat kontras jika dibandingkan dengan keadilan pemerintahan panglima muslim Salahuddin Al-Ayyubi.
Salahuddin memberikan jaminan perlindungan (dzimmah) bagi penganut agama lain yang memilih untuk tetap tinggal di Al-Quds. Di samping itu, beliau juga memberikan jaminan keselamatan mutlak bagi siapa saja yang lebih memilih untuk beremigrasi dari sana.
Adapun kaum Yahudi, sejak mereka menjajah Al-Quds pada tahun 1967 M, mereka terus berupaya mendistorsi identitas Islam kota tersebut secara radikal. Upaya sistematis ini mereka lakukan lewat penghancuran situs-situs suci Islam, pengusiran paksa penduduk muslim, serta memasukkan para pemukim Yahudi untuk menempati tanah mereka.
Paradigma umat Islam terhadap Al-Quds mengakar pada cara pandang Islam yang bersifat universal. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa Al-Quds adalah tanah para nabi sekaligus tempat turunnya risalah samawi.
Tidak ada sejengkal tanah pun di sana melainkan pernah digunakan untuk bersujud oleh seorang nabi yang mulia. Lebih dari itu, Allah Swt. telah memberikan keberkahan di sekeliling wilayahnya dan mengabadikan hal tersebut di dalam kitab suci Al-Qur’an.
Setiap sudut di kota ini menjadi saksi bisu bagi kemuliaan perjuangan umat Islam. Hal tersebut karena setiap jengkal tanahnya mengalir darah suci dari seorang syahid muslim yang gugur mempertahankannya.
Sebaliknya, cara pandang kaum Yahudi dan Nasrani terhadap Al-Quds sejak dahulu hingga era modern merupakan paradigma kolonial yang rasis. Perang Salib pada masa lampau meletus semata-mata demi merealisasikan target-target imperialisme barat.
Demikian pula gerakan Zionisme pada era modern yang memiliki target utama untuk mendirikan tanah air nasional bagi kaum Yahudi di Palestina. Wilayah jajahan yang mereka impikan tersebut membentang luas dari Sungai Eufrat hingga Sungai Nil.
Secara geografis, Al-Quds terletak tepat di jantung Palestina dan kawasannya terbagi ke dalam dua distrik utama. Wilayah tersebut terdiri atas distrik Al-Quds Kuno (Kota Tua) dan distrik Al-Quds Baru (Kota Baru).
Distrik Al-Quds Kuno merupakan kawasan yang bertumpu di atas Gunung Moria. Area suci ini dikelilingi oleh benteng kuno yang kokoh di keempat penjuru sisinya.
Di dalam kawasan Kota Tua inilah seluruh situs suci umat Islam dan Nasrani berkumpul secara autentik. Situs-situs monumental tersebut di antaranya adalah Kompleks Masjidilaksa, Kubah Batu (Qubbatush Shakhran), serta Gereja Makam Kudus (Kanisat al-Qiyamah) yang arsitektur bangunannya kental dengan gaya Timur klasik.
Di sisi sebelah barat dari area suci Haram al-Syarif, terletak Tembok Buraq. Namun, kaum Yahudi secara sepihak mengklaim dan menamakannya sebagai Tembok Ratapan (Wailing Wall).
Penamaan Islam menggunakan istilah Tembok Buraq memiliki kaitan historis saat Rasulullah saw. menjalani peristiwa Isra. Ketika beliau bertolak dari Masjidilharam menuju Masjidilaksa, beliau menambatkan hewan tunggangan Buraq yang membawanya di tembok tersebut.






