MUDA

Gen Z dalam Pusaran Algoritma Kapitalis

Generasi muda hari ini, khususnya Gen Z, hidup dalam dunia yang nyaris tak memberi ruang bernapas. Di layar yang mereka tatap setiap hari, iklan pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) bermunculan dengan frekuensi seperti iklan makanan instan. Algoritma digital yang seharusnya mempermudah hidup justru berubah menjadi pemburu yang tahu persis titik lemah mereka.

Ya, ekonomi terbatas, tekanan gaya hidup, dan kebutuhan instan mendorong mereka mencari cara mendulang dana segar. Tak peduli halal dan haram, tergoda tawaran menggiurkan iklan judol dan pinjol pun jadi pilihan. Solusi yang menjebak generasi muda pada rente kesesatan.

Fenomena ini bukan sekadar kecelakaan digital. Riset Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menyebutkan bahwa 58 persen Gen Z memanfaatkan pinjol bukan untuk kebutuhan primer, melainkan demi gaya hidup dan hiburan. Temuan ini disampaikan  Ketua Program Studi Magister dan Doktor Fakultas Ekonomi Unpar, Dr Vera Intanie Dewi (kompas.com, 28 November 2025).

Fakta tersebut menegaskan, Gen Z sedang didorong masuk ke jurang yang mereka sendiri tidak menyadari kedalamannya. Namun, berujung pada ketergantungan finansial, stres, kriminalitas, hingga mengakhiri hidup.

Jika ditelaah lebih dalam, masalah ini bukan sekadar soal moral individu semata. Ada impitan ekonomi struktural yang lahir dari sistem kapitalisme. Rakyat dihadapkan dengan persoalan pendapatan yang tak sebanding dengan kebutuhan. Harga kebutuhan pokok melesat, sedang peluang kerja makin susah. Ketika hidup makin terjepit, jalan pintas seperti pinjol atau judol tampak menjadi solusi instan yang melegakan. Padahal, sejatinya sebuah jebakan jangka panjang.

Di sisi lain, negara tampak kedodoran. Regulasi ada, tetapi bocor di sana-sini. Peringatan diberikan, tetapi iklan judol dan pinjol tetap wara-wiri di layar gawai. Yang lebih mengkhawatirkan, sistem pendidikan dan lingkungan sosial yang sarat nilai sekuler-materialistik malah menormalkan orientasi hidup konsumtif. Generasi diarahkan mengejar manfaat materi, bukan halal–haram sebagai tolok ukur perbuatan.

Lingkungan digital pun tak lebih baik. Platform besar bekerja dengan satu logika sederhana, yakni apa yang disukai pengguna itulah yang menjadi prioritas, bahkan jika sesuatu yang disukai ini merusak diri generasi muda bangsa. Algoritma tak peduli terhadap keselamatan pengguna, hanya peduli pada durasi, klik, dan profit. Inilah wajah asli kapitalisme digital. Pengguna bukan warga yang harus dilindungi, tetapi pasar yang harus dieksploitasi.

Di tengah perburuan algoritma kapitalis terhadap Gen Z ini. Jelas, generasi muda membutuhkan sistem alternatif yang mampu menjamin kesejahteraan secara struktural. Sistem ini tidak lain adalah sistem Islam.

Dalam paradigma Islam, negara wajib memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar setiap individu tanpa syarat dan tanpa utang berbunga. Sebab, peran negara adalan sebagai pengurus urusan rakyat, pelayan bagi terjaminnya seluruh hajat hidup rakyat. Menjadi kewajiban rakyat menyejahterakan seluruh warganya tanpa terkecuali, baik Muslim maupun non-Muslim.

Kesenjangan ekonomi dalam kapitalisme yang terjadi karena tidak meratanya distribusi kekayaan niscaya tidak akan terjadi dalam naungan sistem Islam. Sebab, Islam memiliki aturan yang jelas bagaimana mekanisme distribusi kekayaan dan pengelolaan sumber daya alam yang semata-mata ditujukan untuk kemaslahatan rakyat. Penerapan sistem ekonomi Islam juga menghapus riba dan melindungi rakyat dari jeratan ekonomi predatoris.

Pendidikan dalam Islam pun memiliki peran penting dan vital. Sistem pendidikan diarahkan bukan sekadar untuk mengajarkan pengetahuan, melainkan untuk membentuk kepribadian islami sehingga generasi terbiasa menyandarkan keputusan pada halal–haram, bukan pada hawa nafsu semata. Dengan landasan ini, perilaku spekulatif seperti judol dan kebiasaan hidup konsumtif tak lagi menjadi tren.

Islam pun memandang bahwa pembangunan infrastruktur digital dibangun dalam rangka untuk membangun masyarakat islami yang terbebas dari pemahaman rusak dan merusak generasi. Konten merusak, normalisasi maksiat, dan aktivitas kriminal tidak akan diberi ruang untuk tumbuh subur. Sains dan teknologi diarahkan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk memanen profit dari memburu generasi muda dalam belenggu ketergantungan.

1 2Laman berikutnya
Back to top button