Jadikan Rasulullah sebagai Teladan
Sudah sepatutnya kita menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan hakiki karena beliau menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan karakter yang hidup dalam setiap ucapan, sikap, keputusan, hingga tetesan air mata beliau.
Berikut merupakan tips mendasar untuk melatih diri agar dapat menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan utama dalam kehidupan kita:
- Mempelajari hukum-hukum Islam melalui metode mutalaah secara langsung kepada guru yang memiliki kompetensi di bidangnya. Teladan ini ditunjukkan oleh Imam Syafi’i yang berguru langsung kepada Imam Malik di Madinah dengan tekad yang sangat kuat. Pada usia 20 tahun, beliau mampu menghafal dan membacakan kitab Al-Muwatta secara langsung di hadapan Imam Malik. Memiliki guru yang kredibel dan memastikan ajaran sesuai dengan syariat akan sangat membantu kita dalam memahami ilmu Allah dan Rasul-Nya secara benar (alimancenter.com).
- Melakukan pengkondisian diri untuk senantiasa berkumpul bersama orang-orang saleh dan menghindari sikap menyendiri jika khawatir akan terjerumus ke dalam kemaksiatan. Allah Swt. mengingatkan tentang bahaya kemungkaran yang dilakukan saat seseorang merasa tidak diawasi oleh manusia dalam Surah An-Nisa ayat 108: Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan pengingkaran terhadap kaum munafik yang menyembunyikan keburukan dari manusia namun melupakan bahwa Allah Maha Mengetahui segala rahasia hati mereka (muslim.or.id).
- Terus berpegang teguh pada syariat Allah dan Rasul-Nya di tengah zaman yang penuh dengan kekaburan antara nilai kebenaran dan kebatilan. Kita perlu menjernihkan pemahaman dengan terus mempelajari Al-Qur’an, Sunah, serta ijmak dan kias melalui proses belajar yang sabar. Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 115: Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
Peristiwa memilukan ini menjadi urgensi bagi individu maupun negara untuk memastikan penjagaan terhadap kehormatan setiap warga negara.
Dalam peradaban Islam, pelaku penyimpangan seksual tidak akan dibiarkan leluasa hingga memakan banyak korban karena adanya sistem sanksi yang tegas.
Semoga peristiwa ini meningkatkan semangat umat Islam untuk kembali mempelajari teladan Rasulullah ﷺ tanpa mudah terprovokasi oleh figur tertentu.
Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk memperbaiki diri dan tidak terjebak dalam penggalian aib yang tidak memberikan manfaat bagi akhirat. Wallahu a’lam bisshawab. []
Diana Uswatun Hasanah, Pegiat Literasi.





