IBRAH

Meneladani Jiwa Besar Sahabat Rasulullah saw

Berbagai kemenangan ini tidak membuat Khalid bin Walid besar kepala. Dengan kesadaran penuh, dirinya memahami bahwa kemenangan tersebut adalah rahmat dan pertolongan Allah Swt. Kehormatan baginya di sisi Allah Swt. adalah ketika menjadi bagian hamba-Nya yang berjihad meninggikan agama-Nya.

Kesulitan demi kesulitan di medan perang tidak menyurutkan azam dan langkahnya. Tidak ada keluhan saat pukulan pedang, hujaman tombak, atau tusukan anak panah mengenai tubuhnya. Jiwa tegar bak batu karang telah terbina dalam jiwanya.

Namun, demi menjaga akidah kaum muslimin agar tidak jatuh pada pengkultusan terhadap dirinya, Umar bin Khattab mencopot jabatannya sebagai pemimpin perang. Jiwa besar nampak dalam lisannya yang mulia: “Aku berjuang bukan karena Umar atau siapa pun, tetapi aku berjuang untuk Allah Swt.”

Ya, dirinya tidak marah sama sekali atas pencopotan ini. Terbukti dirinya tetap berdedikasi tinggi dalam barisan jihad walaupun tidak lagi menjadi pemimpin. Baginya, keikhlasan berjuang dan mati syahid adalah yang utama.

Jiwa besar seperti ini hanya dimiliki oleh orang yang paham kedudukannya sebagai hamba Allah Swt. Potensi akal, tenaga, dan harta yang Allah Swt. titipkan, semaksimal mungkin dipersembahkan demi meraih keridaan-Nya, bukan pujian manusia.

Ulbah bin Zaid: Luas Hati Walau Tak Berharta

Seruan jihad dalam Ghazwah al-‘Usrah (Perang Kesulitan) memanggil jiwanya. Perang tersebut terjadi pada puncak musim panas saat paceklik melanda Madinah. Jarak tempuhnya sejauh 700 hingga 800 km dengan perjalanan 15 hingga 20 hari. Musuhnya pun bukan lawan sembarangan, melainkan superpower dunia saat itu (Romawi) dengan reputasi pasukan dan senjata militer yang tak terkalahkan.

Kaum muslimin berlomba-lomba menginfakkan hartanya untuk perang ini karena keimananlah yang mendorong mereka. Ulbah bin Zaid pun teramat ingin melakukan hal yang sama, walaupun dirinya sadar diri tidak memiliki harta apa pun untuk diinfakkan lantaran dirinya fakir dan tidak memiliki pekerjaan tetap.

Ia pun mengadu kepada Rasulullah saw. atas perihalnya. Beliau saw. mengapresiasi keinginannya yang tulus, tetapi Beliau saw. pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya ikut serta dalam perang karena perang ini mutlak membutuhkan bekal dan kendaraan.

Betapa sedihnya Ulbah mendengar penuturan Rasulullah saw. tersebut. Dia membalikkan badan dengan bercucuran air mata karena tidak bisa mempersembahkan jiwanya di jalan Allah Swt. Hatinya dipenuhi kegelisahan hingga tengah malam tidak bisa memejamkan mata. Lantas ia mengambil wudhu dan bersujud lama mengadu kepada Allah Swt.

Ia berlapang dada atas kefakirannya karena ia memahami bahwa rezeki adalah qadha Allah Swt. Ia berlapang dada hanya mampu bersedekah dengan memaafkan kezaliman yang dilakukan oleh setiap muslim terhadap harta, jasad, dan kehormatannya.

Ternyata sikap lapang dadanya tersebut justru dipuji dan dicintai oleh Allah Swt. Jiwa besarnya ini Allah Swt. abadikan dalam firman-Nya:

وَلَا عَلَى الَّذِيْنَ اِذَا مَآ اَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَآ اَجِدُ مَآ اَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ ۖ تَوَلَّوْا وَّاَعْيُنُهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا اَلَّا يَجِدُوْا مَا يُنْفِقُوْنَ

“Dan tidak ada (dosa) pula bagi orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu (Muhammad) agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih lantaran tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang).” (QS. At-Taubah [9]: 92).[]

Desti Ritdamaya, Praktisi Pendidikan.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button