RESONANSI

Negara tanpa Kompas

Krisis ini mencapai puncaknya ketika hukum kehilangan wibawa sakralnya. Hukum yang seharusnya menjadi tiang penyangga terakhir bagi mereka yang mencari keadilan, berubah menjadi ruang transaksi yang kotor. Putusan hukum tak lagi diperdebatkan dengan argumen di ruang sidang, melainkan dipesan di luar sistem.

Saat keadilan terasa begitu mahal dan hanya bisa diakses oleh mereka yang berkantong tebal, publik secara perlahan belajar untuk tidak lagi menaruh harapan pada negara. Mereka mulai mencari “keadilan” sendiri-sendiri, yang pada gilirannya akan memicu anarki sosial.

Apatisme dan Runtuhnya Legitimasi Moral

Dari sinilah krisis kepercayaan tumbuh subur. Masyarakat yang lelah melihat sandiwara kekuasaan akhirnya memilih untuk apatis. Mereka berhenti berharap, berhenti peduli, dan memilih untuk menyelamatkan diri sendiri dalam sekat-sekat egoisme.

Negara kehilangan energi sosialnya; ia kehilangan legitimasi moral yang seharusnya menjadi napas utama kehidupan berbangsa. Padahal, sebuah bangsa tidak dibangun hanya dengan tumpukan infrastruktur fisik.

Jalan tol yang membelah pulau, bendungan raksasa, dan gedung-gedung pencakar langit memang penting untuk mobilitas ekonomi. Namun, tanpa infrastruktur moral yang kokoh, semua kemegahan itu hanyalah fatamorgana yang rapuh.

Pembangunan yang mengabaikan suara nurani dan rasa keadilan hanya akan mempercepat ketimpangan ekonomi dan memicu konflik sosial yang sewaktu-waktu bisa meledak. Infrastruktur fisik yang dibangun di atas luka sosial hanya akan menjadi monumen keserakahan, bukan kemajuan.

Empati yang Kalah oleh Prosedur

Bencana nurani juga tampak telanjang dalam cara negara merespons penderitaan warganya. Empati sering kali kalah telak oleh urusan prosedur yang berbelit. Kepedulian dikalahkan oleh tembok tebal birokrasi.

Mereka yang seharusnya dilayani justru dipersulit oleh aturan yang kaku, dingin, dan tidak peka terhadap penderitaan manusia. Negara hadir sebagai mesin administrasi yang impersonal, bukan sebagai sebuah komunitas moral yang memiliki hati.

Ironisnya, semua kehampaan ini kerap dibungkus dengan bahasa mentereng tentang kemajuan. Pertumbuhan ekonomi dijadikan mantra sakti, seolah-olah angka PDB yang naik bisa menghapus air mata rakyat yang tergusur tanpa ganti rugi yang layak.

Angka-angka makro dipoles sedemikian rupa agar tampak cantik di mata lembaga donor internasional, sementara luka sosial di akar rumput dibiarkan menganga tanpa obat. Ketika keberhasilan hanya diukur dari statistik kering, nurani secara otomatis disingkirkan dari meja pengambilan keputusan.

Menagih Teladan dan Keberanian Moral

Namun, bencana nurani bukanlah takdir yang tak terelakkan. Ia bukan sesuatu yang mustahil untuk dipulihkan. Seperti halnya mitigasi bencana alam, pemulihan bencana nurani menuntut kesadaran kolektif, keberanian bersikap, dan terutama kepemimpinan yang mampu memberi teladan nyata. Pemulihannya harus dimulai dari keberanian untuk jujur—jujur pada diri sendiri, jujur pada sistem yang ada, dan jujur di hadapan publik.

Kita merindukan pemimpin yang berani hidup sederhana di tengah kemiskinan warganya, aparat yang menolak kompromi terhadap pelanggaran sekecil apa pun, serta sistem yang transparan dan akuntabel hingga ke sel-sel terkecilnya. Ini bukan sekadar tuntutan moral yang muluk, melainkan prasyarat mutlak bagi keberlangsungan negara.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button