Negara tanpa Kompas
Di sisi lain, dunia pendidikan harus kembali pada khittahnya: membentuk karakter dan nurani manusia, bukan sekadar mencetak “sekrup-sekrup” keterampilan untuk kebutuhan pasar tenaga kerja.
Diam adalah Pupuk bagi Kehancuran
Masyarakat sipil juga memegang peran kunci. Nurani publik tidak boleh dibiarkan mati atau dibungkam oleh rasa takut. Kritik harus dijaga agar tetap tajam, partisipasi warga harus dirawat agar tetap kritis, dan sikap permisif terhadap penyimpangan harus segera diakhiri.
Diamnya orang-orang baik adalah pupuk paling subur bagi tumbuhnya bencana nurani. Ketika warga berhenti bersuara melihat ketidakadilan, kekuasaan akan kehilangan cermin untuk melihat wajah aslinya yang mungkin sudah mulai buruk rupa.
Pada akhirnya, sejarah mencatat bahwa negara bisa runtuh tanpa perlu menunggu gempa bumi, tanpa perlu diterjang banjir besar, atau letusan gunung api. Ia bisa runtuh perlahan dalam kesunyian ketika etika dipinggirkan dan keadilan dikorbankan demi syahwat kekuasaan yang tak bertepi.
Memulihkan nurani memang tidak akan pernah semudah membangun kembali jembatan yang roboh, tetapi usaha ini jauh lebih menentukan arah masa depan bangsa ini.
Negara yang besar bukan hanya yang kuat secara ekonomi atau militer, melainkan negara yang memiliki keberanian moral untuk jujur pada dirinya sendiri. Tanpa kompas nurani, kita mungkin selamat dari amuk alam, tetapi kita tidak akan pernah benar-benar selamat dari kehancuran martabat sebagai sebuah bangsa.[]
Muhibbullah Azfa Manik, Dosen Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar.






