MUHASABAH

Refleksi Peringatan Maulid: Mengagungkan atau Justru Mengerdilkan Rasulullah?

Berbagai ceramah dan tablig yang disampaikan—mulai dari musala kecil di pinggir kampung hingga Masjid Istiqlal di ibu kota—sering kali hanya berisi pesan-pesan yang mengerdilkan keagungan Rasulullah saw. Peringatan seremonial tersebut belum sepenuhnya menyentuh esensi keagungan beliau secara utuh.

Hal yang sering diserukan oleh para mubalig terbatas pada ajakan meneladani akhlak pribadi Rasulullah saw., atau paling banter dalam kapasitas beliau sebagai kepala rumah tangga. Sementara itu, posisi beliau sebagai kepala negara dan pemimpin pemerintahan yang menerapkan syariat Islam secara totalitas jarang sekali diungkap.

Seolah-olah dimensi kepemimpinan dan ketatanegaraan tersebut tidak layak untuk diteladani oleh umat Islam modern. Padahal, hampir separuh episode kerasulan Rasulullah saw. di Madinah Al-Munawwarah pascahijrah dipergunakan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan bermasyarakat.

Sekularisme

Pemahaman yang memisahkan kehidupan dunia atau tatanan sosial dari aturan dan nilai-nilai agama itulah yang disebut sebagai sekularisme. Dari pemikiran inilah muncul ungkapan agar urusan politik dan penyusunan undang-undang tidak membawa-bawa agama.

Bahkan, agama kerap dituduh secara keliru sebagai ancaman bagi kebhinekaan. Padahal, penegakan ajaran agama justru menjadi benteng utama demi menjaga integritas bangsa dari kehancuran moral dan sistemik.

Bahaya Sekularisme

Paham sekularisme jelas bertentangan secara mendasar dengan ajaran Islam. Paham ini mencampakkan sebagian besar ajaran Islam, terutama yang berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, hukum, dan pendidikan.

Jikapun aspek-aspek tersebut disinggung, sekularisme hanya mengambil nilai moralitasnya secara abstrak. Politik dituntut adil tetapi syariatnya dibuang, begitu pula ekonomi dan pendidikan yang diperas substansinya tanpa dijadikan sistem baku dalam bernegara.

Padahal, Al-Qur’an secara tegas menyeru orang-orang beriman untuk melaksanakan ajaran Islam secara kaffah dan totalitas tanpa membeda-bedakan satu ajaran dengan ajaran lainnya. Mulai dari urusan adab masuk toilet hingga tata kelola istana pemerintahan, semuanya diatur di dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam ayat berikut, Allah Swt. menegaskan perintah tersebut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah: 208).

Apapun yang datang dari Allah Swt. dan Rasulullah saw. harus diterima dengan prinsip sami’na wa ata’na (kami dengar dan kami taati). Prinsip ini diwujudkan dengan memperhatikan, menaati, dan melaksanakannya secara ikhlas demi mengharap keridaan Allah Swt.

Mari simak dan renungkan firman Allah Swt. berikut:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36).

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button