AKIDAH

Isra Mikraj sebagai Sumber Pelajaran (Bagian 1)

Al-Qur’an dideskripsikan sebagai “mau‘iẓah”, yang berarti pelajaran dan nasihat. Hal ini memberi kesan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber utama pelajaran.

Al-Qur’an juga menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai uswah ḥasanah (suri teladan yang baik) (QS. Al-Aḥzāb: 21). Ini menunjukkan bahwa pada diri beliau, seluruh aspek kehidupannya menjadi sumber teladan dan pelajaran.

Hadis atau sunah—yang dalam diskursus ilmu hadis didefinisikan sebagai ucapan, perbuatan, ketetapan, dan persetujuan Nabi Saw—menempati kedudukan kedua setelah Al-Qur’an dalam penarikan hukum dan pengambilan pelajaran. Salah satu fungsinya adalah sebagai penjelas (mufassir) bagi Al-Qur’an.

Dengan demikian, sosok Nabi Muhammad Saw merupakan manifestasi ajaran Al-Qur’an itu sendiri. Oleh karena itu, Sayyidah ‘Aisyah r.a. ketika menggambarkan beliau berkata, “Akhlak Rasulullah Saw adalah Al-Qur’an.”

Isra Mikraj sebagai salah satu peristiwa yang terjadi pada diri Nabi Saw. tidak terlepas dari nilai-nilai pelajaran. Berikut ini beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut.

Iman sebagai Pondasi Memahami Ayat-ayat Allah

Sebelum berangkat, hati Nabi Saw terlebih dahulu dibedah dan dicuci, kemudian dipenuhi dengan iman, hikmah, dan keyakinan. Selain menjauhkan potensi godaan setan dari diri beliau, peristiwa ini memberikan kesan bahwa perjalanan yang akan beliau lakukan mengandung peristiwa-peristiwa yang hanya dapat dipahami dengan iman dan keyakinan.

Dengan demikian, seseorang yang hendak membaca dan memahami peristiwa Isra Mikraj sepatutnya terlebih dahulu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan dasar iman tersebut, peristiwa itu dipahami sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah, yang pada gilirannya akan semakin menguatkan keimanannya.

“Peristiwa Isra Mikraj hingga kini masih berada di luar jangkauan nalar manusia. Ia tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Peristiwa tersebut adalah wilayah iman, dan iman adalah pembenaran hati.” Demikian tulis Prof. Quraish Shihab dalam bukunya, “Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw.”

Hakikat Kehidupan Dunia dan Godaannya

Dalam perjalanan Isra Mikraj, Nabi Saw menyaksikan banyak hal yang berkaitan dengan substansi atau hakikat suatu peristiwa. Dalam kehidupan dunia, terdapat banyak hal yang tidak terlihat dan tidak dirasakan secara langsung, tetapi pada hakikatnya benar-benar ada. Misalnya, Al-Qur’an menginformasikan bahwa seseorang yang memakan harta anak yatim secara tidak sah, pada hakikatnya ia sedang memakan api yang menyala di dalam perutnya (QS. Al-Nisā’: 10).

Apa yang disaksikan Nabi Saw dalam perjalanan Isra Mikraj menunjukkan hakikat semacam itu. Sebagai contoh, dalam perjalanan Isra, Nabi Saw melihat seorang wanita yang menyingsingkan lengannya hingga tampak perhiasan duniawi, lalu wanita tersebut memanggil beliau. Dengan keimanan yang kuat, Nabi Saw tidak menghiraukan panggilan itu dan melanjutkan perjalanannya.

Setelah itu, Nabi Saw bertanya kepada malaikat yang menyertainya tentang hakikat wanita tersebut. Malaikat menjelaskan bahwa itulah hakikat dunia, yang penuh dengan perhiasan dan godaan. Seandainya Nabi Saw. memenuhi panggilan wanita itu, niscaya umatnya akan lebih cenderung kepada dunia daripada akhirat.

Memang, dunia memiliki banyak perhiasan yang didambakan manusia, tetapi sifatnya hanya sementara. Sebaliknya, kehidupan akhirat (surga) jauh lebih indah dan kenikmatannya bersifat abadi. Namun demikian, banyak manusia yang tergoda dan terjerumus dalam gemerlap kehidupan dunia, sehingga melupakan kehidupan akhirat.

1 2Laman berikutnya
Back to top button