Harapan Baru Sembuh dari Kanker, Aspirin Bukan Jawaban Mutlak
Jakarta (SI Online) – Penyakit kanker kolorektal hingga saat ini masih menjadi salah satu momok kesehatan yang paling mengancam jiwa manusia karena memiliki risiko kekambuhan yang sangat tinggi setelah tindakan operasi.
Namun, sebuah temuan medis terbaru membawa angin segar dengan menunjukkan bahwa obat sederhana yang sangat merakyat seperti aspirin ternyata bisa membantu sebagian pasien untuk menekan risiko kekambuhan tersebut.
Di sisi lain, berbagai penelitian lanjutan justru mengingatkan masyarakat luas bahwa aspirin sama sekali tidak selalu efektif untuk tindakan pencegahan kanker pada populasi umum.
Dua temuan yang saling bertolak belakang ini secara tegas menunjukkan bahwa penggunaan aspirin dalam kasus kanker kolorektal sama sekali tidak boleh disamaratakan untuk semua orang.
Penelitian ilmiah yang dipublikasikan oleh Scitech Daily mengungkap potensi baru yang sangat besar dari aspirin dalam menunjang pengobatan kanker kolorektal.
Dalam uji klinis yang melibatkan lebih dari 3.500 pasien di Benua Eropa, penggunaan aspirin dosis rendah setelah operasi terbukti secara signifikan menurunkan risiko kembalinya kanker.
Pada kelompok pasien dengan kondisi mutasi gen tertentu, kanker tercatat hanya kembali pada 7,7 persen pasien yang rutin mengonsumsi aspirin.
Angka tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat kekambuhan sebesar 14,1 persen pada kelompok pasien yang tidak mengonsumsi aspirin sama sekali.
Secara keseluruhan, konsumsi aspirin dosis rendah tersebut dinilai mampu menurunkan risiko kekambuhan kanker hingga hampir setengahnya.
Penelitian medis ini juga berhasil menyoroti peran penting dari jalur genetik PI3K yang secara aktif memengaruhi pertumbuhan sel-sel kanker di dalam tubuh.
Seorang peneliti dari Karolinska Institutet, Profesor Anna Martling, menjelaskan bahwa pendekatan medis terbaru ini kini telah menjadi bagian dari metode pengobatan modern yang berbasis pada informasi genetika.
Ads: Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Poltek Kesehatan kunjungi poltekkespanaraganjaya.org
“Aspirin diuji dalam konteks yang benar-benar baru sebagai pengobatan presisi berbasis informasi genetik,” kata Martling.






